Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah Tak Masuk Akal

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah Tak Masuk Akal

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Mengutip data Bloomberg, rupiah sempat melemah ke level Rp 17.858 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pelemahan rupiah saat ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurut dia, ekonomi domestik masih cukup kuat sehingga tekanan terhadap rupiah dinilai tidak wajar.

"Ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi," kata Purbaya di Jakarta dikutip Kamis (28/5/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah bersama sejumlah pihak melakukan langkah di pasar surat berharga negara (SBN) agar imbal hasil atau yield obligasi tetap terkendali. Menurut dia, kondisi pasar obligasi yang stabil penting untuk menjaga kepercayaan investor.

"Walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah dan teman-teman kita untuk sedikit membeli supaya yield-nya agak terkendali," ujar Purbaya.

Dia mengatakan, pemerintah mulai melihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Karena itu, menurut Purbaya, pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi ekonomi nasional.

"Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar publikasi kita. Ini terjadi karena fundamentalnya sebetulnya enggak masuk akal," ujar mantan ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.

Sementara menanggapi pelemahan rupiah, ekonom Yanuar Rizky menyebut, intervensi di pasar obligasi justru bisa memberi tekanan tambahan terhadap rupiah apabila ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi. "Kalau intervensi SBN agar yield bertahan di saat global yield koreksi, teori likuiditas justru mengatakan rupiah bisa melemah," kata Yanuar.

Menurut dia, Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap aliran dana asing sehingga pergerakan investor global sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah. "Kalau mau melawan bandar tapi kalah terus, akhirnya yang tadinya menahan diri ikut bandar juga. Itu menambah berat tekanan terhadap rupiah," ucap Yanuar dalam pesan singkat.

Selain itu, Yanuar mengingatkan pejabat publik perlu berhati-hati dalam menyampaikan komentar terkait pasar keuangan. Hal itu karena dapat mempengaruhi persepsi pelaku pasar. "Saya heran pejabat pemerintah malah seperti influencer trading," tuturnya.

Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS dan sentimen global terhadap pasar negara berkembang. Selain rupiah, IHSG juga ikut tertekan sejak awal tahun, setelah menorehkan rekor tertinggi dari 9.000 ke 6.000.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google