GELORA.CO - Kritik berulang Paus Leo XIV terhadap nafsu perang Presiden AS Donald Trump dilaporkan memicu kemarahan Departemen Pertahanan AS alias Pentagon. Seorang pejabat pentagon dilaporkan memanggil utusan Vatikan untuk AS dan mengancamnya dengan menyinggung masa-masa pembunuhan paus pada abad ke-14.
Pada Senin, The Free Press melaporkan bahwa setelah pidato tahunan Paus Leo XIV kepada korps diplomatik Vatikan pada Januari, di mana ia mengkritik negara-negara yang memicu konflik di seluruh dunia, Departemen Pertahanan AS mengundang Kardinal Christophe Pierre untuk bertemu. Saat itu, Pierre sedang menjabat sebagai utusan pribadi Paus Leo untuk Amerika Serikat.
Permintaan Pentagon untuk bertemu dengan pejabat Vatikan adalah hal yang “belum pernah terjadi sebelumnya,” menurut laporan itu. Menurut para pejabat Vatikan dan AS yang diberi pengarahan mengenai pertemuan tersebut, Pentagon mengkritik pernyataan Paus pada bulan Januari, dan menafsirkannya sebagai serangan permusuhan terhadap kebijakan Trump.
Salah satu pejabat Vatikan mengatakan kepada The Free Press bahwa Pentagon sangat marah dengan kritikan Paus terhadap "Doktrin Donroe" – pembaruan Trump terhadap Doktrin Monroe, yang menyerukan agar AS menjadi pengendali yang tidak tertandingi di Belahan Barat.
Pentagon dilaporkan menanggapi pernyataan Paus yang mengatakan bahwa “diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berdasarkan kekuatan, baik oleh individu atau kelompok sekutu.” Kritik itu menyusul serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan pemimpinnya Nicolas Maduro pada Januari itu. Presiden tersebut dibesarkan dalam keyakinan Katolik meski kemudian menunjukkan kecenderungan beragama yang sinkretis.
Wakil Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Elbridge Colby kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Kardinal Pierre, untuk memberikan ceramah yang pahit atas kritik Paus pada Januari.
"Amerika Serikat," kata Colby, "memiliki kekuatan militer untuk melakukan apapun yang diinginkannya di dunia. Gereja Katolik sebaiknya memihak AS."
Salah satu pejabat AS yang hadir pada pertemuan tersebut menyinggung tentang masa kepausan Avignon pada abad ke-14. Masa itu dimulai saat Raja Philip IV dari Perancis ingin menggunakan keuangan gereja untuk membiayai perangnya dengan Inggris.
Paus Boniface VIII memprotes, sehingga menimbulkan perseteruan. Pada tahun 1303, Paus Boniface VIII menindaklanjuti dengan putusan yang mengucilkan raja Perancis dan kerajaannya. Sekutu Italia raja Perancis kemudian menyerbu kediaman kepausan dan memukuli Paus Bonifasius VIII sampai wafat. Serangan itu memaksa kepausan untuk pindah dari Roma ke Avignon, sebuah wilayah di dalam Perancis.
Setelah pertemuan pada Januari, Paus Leo yang merupakan kelahiran AS itu dilaporkan menolak undangan Trump untuk menghadiri acara peringatan 250 tahun negara tersebut.
Bukannya menghabiskan tanggal 4 Juli di AS, Paus malah akan mengunjungi Lampedusa, sebuah pulau kecil di Mediterania yang telah menjadi pintu masuk bagi para migran Afrika yang berusaha mencapai Eropa. Seorang pejabat Vatikan yang berbicara kepada The Free Press mengatakan Paus tidak berencana mengunjungi AS selama Trump masih menjabat.
“Paus mungkin tidak akan pernah mengunjungi Amerika Serikat di bawah pemerintahan ini,” kata pejabat tersebut.
Penolakan Paus terhadap Trump terus berlanjut sejak pertemuan itu. Setelah Trump membuat postingan Truth Social yang mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban Iran – sebuah ancaman yang tidak ditindaklanjuti – Paus mengeluarkan pernyataan yang menyebut kata-kata presiden tersebut “benar-benar tidak dapat diterima.”
"Hari ini, seperti yang kita semua tahu, ada juga ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima," kata Paus kepada wartawan di Italia pada hari Selasa, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran telah tercapai.
Seorang juru bicara Departemen Pertahanan mengatakan kepada Newsweek bahwa karakterisasi Free Press terhadap pertemuan tersebut "sangat dibesar-besarkan dan menyimpang".
“Pertemuan antara pejabat Pentagon dan Vatikan merupakan diskusi yang penuh hormat dan masuk akal,” kata juru bicara tersebut. “Kami sangat menghormati dan menyambut baik kelanjutan dialog dengan Takhta Suci.”
