Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai menebar ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi di Asia Tenggara. Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, memperingatkan adanya tekanan besar terhadap peringkat utang negara-negara di kawasan ini jika krisis energi terus berlanjut.

S&P menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling berisiko. Dibanding tetangganya, posisi Indonesia paling terancam karena 'benteng' peringkat kreditnya yang lemah

"Kualitas kredit negara dengan bantalan peringkat yang lebih tipis dapat menurun dalam skenario gangguan berkepanjangan di pasar energi. Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat kedaulatan Indonesia akan lebih rentan jika konflik berlarut-larut," tulis S&P dalam laporannya baru-baru ini, dikutip Kamis 16 April 2026. 




Tiga beban utama bagi Indonesia adalah; 
- Beban Subsidi: Lonjakan harga energi otomatis membengkakkan anggaran subsidi negara.
- Defisit Transaksi Berjalan: Impor minyak yang mahal akan memperlebar celah defisit.
- Biaya Pinjaman: Inflasi yang agresif berpotensi memicu kenaikan suku bunga, sehingga pemerintah harus membayar lebih mahal untuk meminjam dana.

Meski satu kawasan, S&P melihat tingkat ketahanan yang berbeda-beda pada negara tetangga.

Malaysia berada di posisi paling stabil. Meski defisit anggaran dan subsidi diprediksi membengkak, pasar modal yang dalam serta pertumbuhan ekonomi yang solid menjadi pelindung. Menurut S&P, penurunan fiskal sementara kemungkinan besar tidak akan memicu perubahan peringkat utang.

Sementara, Thailand dianggap memiliki kebijakan moneter dan posisi eksternal yang cukup kuat untuk menahan guncangan. Sedangkan Vietnam dinilai memiliki bantalan yang memadai, namun tetap waspada terhadap risiko likuiditas eksternal jika biaya impor energi terus melambung dan menggerus cadangan devisa.

S&P menyusun asumsi dasar bahwa puncak intensitas perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz akan mereda pada bulan April ini. Namun, kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah diprediksi tetap akan menyisakan dampak selama berbulan-bulan ke depan.

Dalam skenario ini, harga minyak mentah jenis Brent diperkirakan akan bertahan di level rata-rata 85 Dolar AS per barel hingga akhir tahun 2026. 

Sumber: RMOL 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita