GELORA.CO - Di balik gemuruh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ada sisi gelap yang tak ikut masuk dalam blueprint: narkoba. Di Kecamatan Sepaku, kawasan yang digadang-gadang menjadi jantung masa depan Indonesia, polisi justru menemukan denyut lain—peredaran barang haram yang bergerak senyap, tapi masif.
Polres Penajam Paser Utara membongkar enam kasus narkoba hanya dalam tiga bulan pertama 2026. Tujuh orang ditangkap. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahwa pembangunan fisik tak otomatis menutup celah sosial.
Kapolres AKBP Andreas Alek Danantara menyebut Sepaku sebagai titik paling rawan dalam periode Januari hingga Maret. “Pengungkapan kasus narkoba di Kecamatan Sepaku itu yang terbanyak,” ujarnya. Kalimat itu terasa dingin, tapi maknanya panas—IKN belum steril.
Tak berhenti di sana, pengungkapan meluas ke wilayah lain. Di Kecamatan Penajam, lima kasus diungkap dengan enam tersangka. Sementara di Babulu, dua kasus menyeret dua orang. Totalnya: 13 perkara, 15 tersangka. Ini bukan angka kecil untuk wilayah yang sedang dibangun sebagai simbol peradaban baru.
Barang bukti yang diamankan pun cukup mencolok—74,64 gram sabu. Jumlah yang mungkin terlihat kecil di atas kertas, tapi cukup untuk merusak puluhan bahkan ratusan hidup. Di tengah geliat pembangunan, sabu justru menyelinap, mencari ruang di antara pekerja, pendatang, dan celah pengawasan.
Realitas ini membuka satu hal yang kerap luput: pembangunan tidak hanya soal beton, jalan, dan gedung pemerintahan. Ia juga tentang manusia—dan risiko sosial yang ikut bergerak bersamanya. Ketika ribuan orang datang, ekonomi tumbuh, dan aktivitas meningkat, pasar gelap pun ikut mencari pijakan.
Polisi menyebut pengungkapan ini sebagai bentuk komitmen. Tapi komitmen saja tidak cukup tanpa keterlibatan publik. Masyarakat diminta aktif melapor jika menemukan indikasi peredaran narkoba. Sebab, di kota yang bahkan belum sepenuhnya jadi, ancaman sudah lebih dulu menetap.
IKN boleh dirancang sebagai simbol masa depan Indonesia. Tapi jika ruang-ruang gelap seperti ini dibiarkan tumbuh, maka yang dibangun bukan hanya ibu kota—melainkan juga potensi krisis sosial baru.
