GELORA.CO - Di tengah bayang-bayang konflik kawasan yang belum sepenuhnya reda, Israel kembali bermanuver. Kali ini, mereka bersiap menggelar festival LGBTQ+ berskala masif bertajuk 'Pride Land'. Perhelatan yang diklaim sebagai yang terbesar di Timur Tengah ini akan digelar selama empat hari di kawasan wisata Laut Mati.
Mengutip laporan AFP, Kamis (23/4/2026), acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 4 Juli 2026 yang berpusat di Ein Bokek.
Jejak Sejarah Sodom di Laut Mati
Pemilihan kawasan Laut Mati sebagai lokasi perayaan budaya queer ini memunculkan ironi dan kontras sejarah yang tajam. Dalam narasi kitab suci agama-agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi), kawasan Laut Mati atau Lembah Yordan secara historis dan geografis sangat lekat dengan letak kota kuno Sodom dan Gomora.
Wilayah tersebut diyakini sebagai tempat tinggal kaum Nabi Luth, yang menurut catatan teks-teks suci, menerima azab kehancuran akibat penyimpangan orientasi seksual. Latar belakang sejarah religius ini tentu memberikan dimensi paradoks tersendiri terhadap festival yang akan dilangsungkan.
Bukan Sekadar Parade Jalanan
Mengesampingkan latar belakang sejarah tersebut, penyelenggara mengemas Pride Land sebagai sebuah 'festival destinasi'. Rangkaian programnya tak main-main, mencakup pertunjukan musik, pesta, pameran seni, hingga perayaan budaya di ruang acara khusus bernama DOME X.
Akun resmi pemerintah Israel di platform X bahkan mempromosikan acara ini sebagai 'empat hari perayaan tanpa henti'. Guna memperluas segmentasi pengunjung dan menepis kesan eksklusif, panitia juga menyediakan area khusus yang ramah keluarga dan anak-anak.
Paradoks Hukum Perkawinan
Festival megah ini sejatinya digelar di atas landasan regulasi hak LGBTQ+ Israel yang cukup rumit. Di dalam negeri, pernikahan sesama jenis dilarang keras karena sistem pernikahan sipil berada di bawah cengkeraman ketat otoritas keagamaan.
Namun, hukum sekuler negara tersebut justru mengakui status pernikahan sesama jenis yang dilakukan di luar negeri. Kementerian Luar Negeri Israel kerap menggunakan celah hukum—seperti pengakuan pengadilan terkait hak asuh dan keluarga—untuk mengkampanyekan Israel sebagai 'yurisdiksi paling permisif bagi komunitas LGBTQ+' di kawasan Timur Tengah.
Ambisi Pemulihan Citra di Tengah Perang
Banyak pengamat menilai bahwa festival ini adalah bagian dari strategi promosi untuk memulihkan wajah pariwisata Israel. Maklum, rekam jejak agenda serupa sebelumnya hancur lebur akibat eskalasi militer.
Acara tahunan Tel Aviv Pride sempat dibatalkan pada 2024 menyusul meletusnya perang di Gaza. Setahun setelahnya, pada 2025, agenda tersebut kembali gagal digelar seiring memanasnya konflik terbuka dengan Iran.
Kini, penyelenggaraan Pride Land pada 2026 akan menguji sejauh mana stabilitas keamanan yang bisa ditawarkan Israel bagi turis internasional.
