GELORA.CO - Tragedi kemanusiaan kembali menimpa anak-anak Palestina. Kali ini, dialami Ahmed al-Helou, seorang anak Palestina. Bocah itu Ahmed dilaporkan telah diperkosa oleh 10 tentara wanita Israel di dalam sel tahanan.
Selain kekerasan seksual, Ahmed al-Helou juga mendapat penganiayaan fisik dan tekanan psikologis.
Akibatnya, bocah yang seharusnya menikmati masa kecilnya dengan bermain itu kini harus menanggung beban trauma psikis dan fisik seumur hidup.
Ahmed tidak sendirian. Dia merupakan 1 dari 15 anak-anak Palestina yang mengalami nasib serupa.
Akibat penganiayaan berat dan pelecehan yang tidak manusiawi tersebut, Ahmed kini kehilangan kemampuan untuk berbicara secara normal.
Dia mengalami luka batin yang begitu dalam. Kekejaman yang dilakukan oleh 10 tentara wanita Israel dinilai melampaui batas nalar.
Selain kekerasan seksual, para tentara wanita Israel tersebut dilaporkan melakukan metode penyiksaan yang merusak indra penglihatannya.
Mata Ahmed al-Helou dipaksa melihat pemandangan yang tidak senonoh secara terus-menerus di bawah tekanan fisik yang hebat. Salah satunya dipaksa melihat tubuh perempuan tanpa pakaian.
Tindakan ini sengaja dilakukan untuk merusak saraf optik sekaligus menghancurkan kondisi mental sang bocah.
Efeknya, Ahmed tidak hanya mengalami kerusakan fisik pada matanya, tetapi juga mengalami gangguan disosiatif.
Ini membuatnya sulit berinteraksi dengan dunia luar.
"Detail mengerikan dari apa yang dialami Ahmed al-Helou telah mencuri suaranya. Ia adalah representasi dari luka yang tak terlihat namun permanen, sebuah bentuk kejahatan perang yang menyasar masa depan anak-anak Palestina," tulis sebuah laporan investigasi terkait pelanggaran HAM di wilayah tersebut.
Kronologi Penangkapan Ahmed al-Helou
Kejadian memilukan ini bermula pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, Ahmed al-Helou sedang berada di pusat bantuan kemanusiaan Global Hunger Fund (GHF) di dekat Rafah.
Dia berada di sana untuk mengambil jatah bantuan makanan bagi keluarganya. Ironisnya, di lokasi yang seharusnya menjadi tempat perlindungan itu, ia ditangkap oleh pasukan zionis.
Penangkapan di pusat bantuan yang terafiliasi dengan Amerika Serikat ini menambah daftar panjang pelanggaran protokol internasional terkait zona aman bagi warga sipil.
Dari sana, Ahmed al-Helou dibawa ke pusat penahanan Israel yang menjadi awal dari rangkaian mimpi buruk yang kini menghantui setiap tidurnya. Hingga saat ini, kondisi Ahmed al-Helou masih sangat memprihatinkan.
Para ahli psikologi menyatakan trauma yang dialami Ahmed memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Bahkan ada kemungkinan luka tersebut tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Upaya rehabilitasi terus dilakukan oleh berbagai lembaga kemanusiaan. Namun tantangan terbesar adalah mengembalikan kepercayaan Ahmed al-Helou terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya.
Advertisement
Kasus ini menjadi alarm keras bagi komunitas internasional mengenai urgensi perlindungan anak-anak di bawah hukum perang internasional. Dunia kini menunggu keadilan bagi Ahmed al-Helou dan 14 anak Palestina lainnya.
Sumber: fin
