Jokowi menampar keras wajah Trump dan menolak pujiannya "Prabowo Hebat"?

Jokowi menampar keras wajah Trump dan menolak pujiannya "Prabowo Hebat"?

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Jokowi menampar keras wajah Trump dan menolak pujiannya "Prabowo Hebat"?

Oleh: Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik) 

Trump memuji Indonesia dan Prabowo pada Inaugural Meeting "Board of Peace" (BOP) yang digelar Trump di United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/02/2026) dikarenakan "Ketegasan Prabowo yang menyangkut dukungan serta kontribusi aktif Indonesia dalam mendorong perdamaian global. 

Dan ada info, Indonesia  selain merupakan anggota BoP juga sebagai inisiator berdirinya BoP ? Bahkan dikabarkan RI akan menyumbangkan dana sebesar 17 triliyun rupiah untuk langkah langkah politik Trump di Timur Tengah melalui BoP.

Namun di Indonesia sendiri mayoritas publik, umumnya umat Islam dan para tokoh ulama memprotes keras kebijakan Prabowo ikut terlibat sebagai anggota Bop disaat ada peperangan antara Iran melawan Israil-Amerika Serikat, sehingga asumsi publik justru RI seolah aktif menyumbangkan dana untuk mendukung zionis Israil dan AS serta Nato demi proses penghancuran perjuangan bangsa Palestine. Walau beberapa negara Nato, utamanya rakyat mereka sendiri bereaksi keras menolak negaranya ikut serta dalam membantu Israil-AS dalam peperangan melawan Iran.

Sehingga tersirat kebijakan politik luar negeri Prabowo selain rawan dukungan dari publik bangsa ini yang deskriftif soundingnya melalui Para Tokoh Uama dan juga "tidak mendapat restu dari sosok Jokowi"  sang tokoh mantan Presiden RI ke 7.

Hal ini nampak dari pernyataan Jokowi yang diplomatis melalui gaya khas bahasa politiknya, bahwa "dirinya sudah pernah dialog beberapa kali, langsung menghubungi Kakaknya" MBZ, sosok Pangeran Mohamed bin Zayed (MBZ) Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, karena Ia (Jokowi) merasa khawatir atas terjadinya perang antara Iran melawan Israil dan Amerika (bakal) berpotensi memakan waktu panjang, bahkan Duta Besar Iran mewakili negaranya berkunjung silaturahim ke rumah Jokowi di Solo menyampaikan tentang situasi dam kondisi perang kontemporer antara negaranya melawan Israil  dan tentunya berharap agar Jokowi dapat berperan aktif terkait kebijakan politik Presiden RI yang bergabung dalam BoP.  Maka bisa diartikan oleh Iran RI turut membantu Israil-AS sehingga pespektif publik, bahwa kedatangan Dubes Iran resmi memiliki urgensi politis yang misi utamanya adalah minta partisipasi pengaruh politik Jokowi, agar Jokowi dapat memberikan masukan atau nasehati Presiden RI Prabowo agar keluar dari keanggotaan BoP dan selanjutnya menangguhkan bantuannya kepada BoP sebesar 17 Triliyun.

Maka dari sisi pandang perspektif politik global dari Jokowi, mencerminkan ada kekhawatiran dirinya pada level yang cukup serius yang menyiratkan bakal ada dampak negatif pada sektor politik dan ekonomi di tanah air dan domestik/regional bahkan internasional.

Hal tentang prediksi Jokowi pada dampak sektor ekonomi ini, tentu relevan karena memiliki korelasi salah satunya akibat lahirnya dukungan politik RI kepada Israil melalui BoP dengan kekhawatiran Jokowi yanh disambung "cerita" dengan gaya bahasa diplomatika "Kakak" dari Jokowi, dan publikasi viral kunjungan terbuka Dubes Iran ke rumah Jokowi, merupakan sebuah sinyal baik dari Iran maupun dari pribadi Jokowi sendiri selaku tokoh bangsa, yang menyesalkan dan sepatutnya dirinya merasa khawatir bisa jadi "Iran dengan sangat terpaksa" akan melarang kapal tanker pertamina untuk melewati selat Hormuz.

Maka fenomena dan dinamika politik yang terjadi di tanah air justru Jokowi 'seakan' menampar keras wajah Trump yang ingin memperalat negara Indonesia untuk politik bisnis ekonomi liberalis_imprealisme AS-Israil dengan misi menguasai ladang ladang minyak di timur tengah termasuk ladang minyak Iran dan sekaligus memupus harapan bangsa Pelestine merdeka.  

Selanjutnya dengan politik "cepat tanggap" Prabowo selaku PresIden RI ke 8 yang diketahui berlatar belakang nasionalisme yang tinggi dan bertanggung jawab kepada seluruh bangsanya, langsung mengundang Tokoh Ulama dari berbagai kelompok, dan belakangan dikabarkan menyadari akibat kebijakannya yang kurang populer di tanah air terkait Perang Iran Vs Israil dan AS dalam status hubungannya BoP, kemudian imbasnya  RI mempertimbangkan kembali bantuannya sebesar 17 triliyun kepada BoP.  Maka pada kenyataannya Prabowo menolak rayuan gombal dari Trump dan Benyamin Netanyahu, dan semoga tindakan elegant dari Prabowo juga dapat diikuti oleh para pemimpin negara-negara di timur tengah atau 7 negara muslim lainnya.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita