GELORA.CO - Krisis Timur Tengah membuat harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) ikut melambung. Imbasnya, nilai subsidi gas melon di APBN ikut meroket.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun mendorong pengembangan teknologi material maju guna mendukung ketahanan energi nasional.
Salah satu inovasi ilmuwan Indonesia kembangkan adalah CubiTan, yakni sistem penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai pensubstitusi tabung gas melon LPG.
Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN Canggih Setya Budi menjelaskan, CubiTan adalah hasil kolaborasi internasional dengan Yachiyo Engineering dan Atomis dari Jepang.
Sistem ini memanfaatkan material MOF sebagai media penyimpanan gas, memiliki permukaan sangat tinggi dan kemampuan adsorpsi yang unggul.
Di samping itu juga dilengkapi berbagai fitur yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan keandalan dalam operasional.
“CubiTan ini merupakan sistem gas yang terbuat dari High-Pressure Gas Cylinder Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP), di dalamnya terdapat gas adsorben MOF,” katanya pada Workshop on 2D Functional Materials for Energy, Environment, and Health Applications di ICE BSD, Tangerang Selatan, melansir Senin 20 April 2026.
“Dilengkapi dengan sistem komunikasiACNWI, sensor temperatur, sensor tekanan (pressure shock) serta wireless,” imbuh Canggih Setya.
Ia menuturkan, CubiTan memiliki keunggulan dari tabung melon LPG konvensional biasa. Dari sisi performa, bobot tabung CubiTan hanya sekitar 11,7 kg, jauh lebih ringan dibandingkan tabung konvensional yang mencapai 30,5 kg dan penyimpanan gasnya tetap kompetitif.
CubiTan juga dapat dioperasikan pada tekanan yang lebih rendah, sehingga meningkatkan aspek keselamatan dalam penggunaannya.
“Saat berkunjung ke laboratorium BRIN di Serpong, Prof. Susumu Kitagawa turut menguji coba penggunaan CubiTan untuk menyalakan kompor, dan hasilnya menunjukkan performa yang tidak kalah dibandingkan penggunaan tabung LPG konvensional yang umum digunakan,” ungkapnya.
Canggih mengungkapkan, saat ini sistem penyimpanan CubiTan masih beroperasi pada tekanan tinggi, yakni sekitar 200 bar. Untuk mengatasi hal tersebut, ia bersama timnya tengah berupaya menurunkan tekanan operasional secara bertahap.
“Saat ini tekanan pada sistem penyimpanan masih berada di 200 bar, kami sudah mencoba menurunkannya ke 80-60 bar. Tantangan berikutnya, adalah mencapai tekanan sekitar 15 bar yang setara dengan kondisi penggunaan saat ini di masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, infrastruktur pengisian (mother station) saat ini juga masih menggunakan tekanan tinggi hingga 200 bar. Hal ini menuntut penggunaan material tabung dengan kekuatan mekanik tinggi, seperti CFRP yang mampu menahan tekanan hingga 700 bar, namun memerlukan biaya mahal.
“Karena masih menggunakan tekanan tinggi, sistem pengisian membutuhkan material dengan kekuatan mekanik tinggi seperti CFRP. Secara teknis material ini sangat kuat, tetapi dari sisi biaya masih cukup mahal,” ujarnya.
Riset Libatkan Prof Susumu Kitagawa, Penerima Nobel Kimia 2025
Ke depan, tantangan utama dalam pengembangan CubiTan adalah menghadirkan material MOF yang mampu bekerja optimal pada tekanan rendah. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menggunakan tabung yang sudah ada di masyarakat, seperti tabung melon LPG konvensional.
“Untuk menurunkan tekanan operasional, dibutuhkan MOF yang optimal pada tekanan rendah. Harapannya, kita bisa memanfaatkan tabung eksisting seperti LPG atau tabung CNG. Jika tetap di tekanan tinggi, maka diperlukan MOF dengan kekuatan mekanik yang sangat baik,” tambahnya.
Canggih juga menyebutkan, penggunaan MOF dalam sistem CubiTan berpotensi meningkatkan performa penyimpanan gas 1,5 hingga 2 kali dibandingkan tabung konvensional saat ini.
Sebagai bagian dari roadmap pengembangan, BRIN menargetkan dalam tiga tahun ke depan teknologi CubiTan dapat mencapai tahap purwarupa prakomersial.
“Fokus utamanya adalah untuk penggunaan rumah tangga serta distribusi energi di kawasan perumahan. Target kami dalam tiga tahun ke depan adalah menghadirkan purwarupa prakomersial untuk penggunaan rumah tangga dan distribusi gas di sektor perumahan,” kata Canggih.
Lebih jauh, pengembangan teknologi ini juga diharapkan memberikan dampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dari sisi global, BRIN telah memperkuat kolaborasi dengan Kyoto University melalui skema Sister Lab, termasuk keterlibatan Prof. Susumu Kitagawa, penerima nobel Kimia 2025.
“Kami juga telah menyelenggarakan kegiatan internasional seperti Nobel Lecture yang menghadirkan Prof. Susumu Kitagawa. Ini membuka peluang kolaborasi kelas dunia dengan para ilmuwan terkemuka,” ungkapnya.
Di tingkat nasional, ujarnya, inovasi CubiTan dinilai berpotensi menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Selain itu, teknologi ini juga dapat berkontribusi dalam menekan beban subsidi energi.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi subsidi LPG yang saat ini mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, menyediakan lapangan pekerjaan, dan pengembangan iklim riset berkelanjutan,” pungkasnya. ***
Sumber: konteks
