Menkomdigi Protes ke Meta: Lama Hapus Hoaks, Konten Palestina Malah Cepat Hilang

Menkomdigi Protes ke Meta: Lama Hapus Hoaks, Konten Palestina Malah Cepat Hilang

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Menkomdigi Protes ke Meta: Lama Hapus Hoaks, Foto Palestina Malah Cepat Hilang

GELORA.CO -
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengeluhkan unggahan foto dirinya saat sedang berada di Palestina. Menurutnya, unggahan tersebut cepat hilang dan tak bertahan lama pada media sosial.

Hal ini disampaikannya pada saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantor perusahaan Meta yang berada di Sequis Tower Building, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Rabu (4/3).

"Tapi kemarin saya pasang foto saya ketika saya di Palestina, cepat sekali langsung dihilangkan, pak," ujar Meutya saat melakukan sidak, dikutip Senin (9/3).

Pihak Meta yang sedang disidak pun menjawab bahwa hal tersebut berkaitan dengan distribusi konten pada platform mereka. "Itu distribusinya berarti," jawab pihak Meta.

Menanggapi hal tersebut, Meutya Hafid menyampaikan bahwa penghapusan konten itu tidak semata-mata dipicu oleh faktor distribusi. Ia menilai ada perbedaan perlakuan terhadap berbagai jenis konten yang beredar di platform digital.

Menurutnya, sejumlah konten hoaks yang tersebar di media sosial seringkali membutuhkan waktu cukup lama untuk diturunkan. Sebaliknya, ada pula konten tertentu yang justru dapat dihapus dengan sangat cepat.

"Bagi isu-isu tertentu, self-censorship dilakukan. Tapi bagi hal-hal yang memang mengganggu di Indonesia, baik itu hoaks terkait kesehatan, hoaks terkait pemerintahan, hoaks yang mengadu domba masyarakat terkait SARA, hoaks yang terkait hal-hal lainnya, itu kenapa lama? Tapi kalau urusan Palestina, langsung hilang tuh," ungkap dia.

Tak hanya itu, Meutya juga mempertanyakan transparansi dari Meta terkait moderasi konten pada pemerintah, termasuk pula mengenai jumlah pengguna ataupun sistem algoritma yang telah digunakan.

Hingga saat ini, ia mengaku bahwa Komdigi tak menerima informasi mendetail terkait jumlah pengguna ataupun mekanisme algoritma yang digunakan pada platform.

"Saya selalu tanya kita berapa sih? Kenapa kami pun tidak bisa tahu pengguna? Kan secara teknologi semua terdata, Pak. Algoritma pun sampai sekarang enggak bisa dibuka," tegasnya.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita