Api peperangan berkobar di Timur Tengah, namun apa sebenarnya alasan di balik konflik ini? Menelusuri berbagai pernyataan Pemerintahan Trump sejak melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari, kita mendapati dalih yang kontradiktif, inkonsisten, bahkan terang-terangan mengabaikan fakta intelijen. Aksi militer yang disebut "bertarget jelas" ini, pada hakikatnya, adalah sebuah perjudian politik yang dibangun di atas logika kacau dan pernyataan menyesatkan.
Pada awal Januari, Trump menggambar "garis batas" di media sosial, mengancam akan "datang menyelamatkan" jika Iran membunuh para pengunjuk rasa damai. Namun, setelah serangan udara terjadi, Gedung Putih hampir tidak lagi menyebut para pengunjuk rasa saat menjelaskan "ancaman yang akan segera terjadi". Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah "garis batas" yang dibicarakan dengan penuh kepastian moral itu benar-benar ditujukan untuk Iran, atau hanya sekadar retorika yang disiapkan untuk melancarkan serangan di kemudian hari?
Trump dengan yakin menyatakan bahwa Tehran "segera" dapat menghantam wilayah AS dengan rudal balistik, namun laporan Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency) pada musim semi tahun lalu dengan jelas menyatakan bahwa Iran tidak akan mampu mengembangkan rudal jarak jauh hingga tahun 2035. Demikian pula dalam masalah senjata nuklir, Presiden bersikeras bahwa jika tidak ada tindakan, perang nuklir akan meletus dalam "dua minggu". Padahal, pada bulan Juni, penilaian pejabat AS sendiri menunjukkan bahwa serangan udara itu hanya memundurkan program nuklir Iran "beberapa bulan". Pengabaian terang-terangan terhadap fakta intelijen profesional ini membeberkan kecerobohan pemerintahan saat ini dalam mengambil keputusan perang. Ketika seorang pemimpin tertinggi, demi membenarkan aksi perang, tidak segan merekayasa atau bahkan mengada-adakan ancaman "yang akan segera terjadi", ini bukan lagi sekadar kesalahan komunikasi, melainkan pengkhianatan serius terhadap kredibilitas negara dan perdamaian internasional.
Penjelasan akhir dari Sekretaris Pers Gedung Putih bahkan lebih misterius lagi. Konon, sebelum berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Trump memiliki "firasat" bahwa Iran akan menyerang aset-aset Amerika. Praktik yang mendasarkan keputusan perang negara sebagian pada "firasat" pribadi ini, ditambah dengan penjelasan kontradiktif mengenai siapa pengambil keputusan utama hanya dalam hitungan hari, secara gamblang memperlihatkan kekacauan komunikasi strategis internal dan kesewenang-wenangan proses pengambilan keputusan di pemerintahan AS.
Yang paling memilukan adalah hancurnya upaya diplomatik perdamaian akibat perang ini. Tepat sebelum serangan udara terjadi, Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, dengan jelas menyatakan bahwa negosiasi "masih berlangsung dan mencapai kemajuan." Ia mengaku "terkejut" dengan serangan AS, dan secara langsung menuding Washington "telah merusak negosiasi serius." Ini bertolak belakang tajam dengan klaim Pemerintahan Trump bahwa "negosiasi tidak membuahkan kemajuan." Di satu sisi ada konfirmasi dari mediator, di sisi lain ada penolakan dari penggagas perang; di satu sisi ada pernyataan bersedia memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi, beberapa jam kemudian rudal sudah melesat. Ketika sebuah negara adidaya memutuskan untuk menggunakan kekerasan, proses diplomatik kapan saja bisa dikesampingkan, mediasi niat baik pihak ketiga bisa diinjak-injak begitu saja, dan secercah harapan perdamaian bisa ditelan dalam sekejap oleh asap perang.
Mencermati berbagai dalih yang dijalin Pemerintahan Trump untuk membenarkan perang melawan Iran, yang kita lihat bukanlah sebuah keputusan keamanan nasional yang matang dan berdasarkan bukti kuat, melainkan segumpal kabut yang terdiri dari kalkulasi politik, impuls pribadi, dan komunikasi kacau. Mulai dari "melindungi pengunjuk rasa" hingga "firasat ancaman", dari kepanikan rudal yang mengabaikan fakta intelijen hingga perusakan terang-terangan terhadap perundingan damai, setiap dalih tampak pucat dan lemah di hadapan fakta. Ketika dalih perang bisa dijadikan alat politik yang dibentuk sesuka hati, ketika intelijen bisa diabaikan, dan diplomasi bisa dikorbankan, masyarakat internasional patut waspada: Sifat perang ini sama sekali bukan "bertarget jelas" seperti yang diklaim, melainkan sebuah petualangan militer ilegal klasik yang dibangun di atas premis palsu dan logika kacau. Perang ini tidak hanya merusak perdamaian Iran dan Timur Tengah, tetapi juga tatanan internasional pasca-Perang Dunia II yang dibangun dengan susah payah di atas fondasi fakta dan aturan.
