JK Ragu Prabowo jadi Juru Damai Iran - AS: Niatnya Baik tapi Tidak Realistis

JK Ragu Prabowo jadi Juru Damai Iran - AS: Niatnya Baik tapi Tidak Realistis

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menanggapi rencana Presiden RI Prabowo Subianto yang ingin mengambil peran sebagai penengah atau juru damai atas gejolak di Timur Tengah pasca-serangan rudal Zionis Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran, Sabtu (28/2/2026).

JK, sapaan karibnya, menilai keinginan tersebut sebagai niat yang baik. Namun, ia memandang upaya tersebut tidak realistis mengingat skala konflik yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

"Ya, niat rencana itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya," kata dia di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu (1/3/2026).

Menurut JK, upaya perdamaian di kawasan tersebut selama ini sudah kerap dilakukan. Bahkan dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun seperti antara Israel dan Palestina, sampai saat ini tidak ada kata damai.

"Ya, Israel dengan Palestina saja tidak bisa, sulit didamaikan," katanya.

JK berpandangan, dinamika geopolitik global tidak mudah diatur karena sangat ditentukan oleh kepentingan dan sikap negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat. Ia menilai posisi Indonesia dalam percaturan global juga tidak dalam posisi setara dengan AS.

"Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat dan Amerika. Dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang, yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika," katanya.

"Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara, dalam keadaan ini, dalam hal perundingan seperti itu," ucapnya menambahkan.

Meski demikian, JK menegaskan Indonesia tetap memiliki tanggung jawab moral sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan sebagai anggota aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyerukan penghentian konflik.

Ia menyadari, upaya mendamaikan pihak-pihak yang bertikai tidaklah mudah, bahkan cenderung mustahil dalam situasi seperti sekarang. Namun, menurutnya, upaya perdamaian tetap perlu disuarakan.

"Dan Indonesia tentu sebagai negara yang mayoritas Islam apalagi di PBB ini tentu berupaya bagaimana kita setidak-tidaknya menyerukan, mendoakan agar berhenti segera situasi ini. Karena untuk mendamaikan itu sulit sekali dan tidak mungkin kita lakukan seperti apa yang kita harapkan seperti itu," tuturnya.

Pada Sabtu pagi (28/2/2026) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.

Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Situasi kawasan Timur Tengah kini berada dalam tensi tinggi, dengan komunitas internasional diperkirakan segera menyerukan de-eskalasi untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita