GELORA.CO - Salah satu andalan Iran dalam 'mengamankan" Selat Hormuz dalam pertempuran melawan AS-Israel adalah drone bawah air siluman (UUV) Azhdar.
Seperti dilaporkan Defence Security Asia, drone bertenaga listrik punya Iran ini meningkatkan kecemasan strategis di seluruh komando angkatan laut global karena propulsi baterai lithium yang hampir tanpa suara. Drone dapat bergerak senyap tanpa gesekan air.
Daya tahan baterai dan pembuatannya yang berbiaya rendah sangat mengancam pelayaran dunia yang coba masuk ke selat tersebut. Konsep operasional kendaraan bawah air tanpa awak Azhdar boleh dibilang mencerminkan pergeseran teknologi yang lebih luas dalam peperangan laut.
Model penyebaran drone berbasis kawanan ini mulai mengikis dominasi tradisional armada permukaan besar yang secara historis mengamankan jalur maritim sempit dan melindungi jalur pelayaran komersial bernilai tinggi.
Beroperasi dengan kecepatan sekitar 18 hingga 25 knot, drone bawah air Azhdar memberikan keseimbangan antara pergerakan senyap dan kemampuan manuver taktis.
Sistem ini memungkinkan drone berpatroli di koridor maritim yang diperebutkan sambil mempertahankan fleksibilitas operasional untuk misi pengawasan, pencegahan, atau serangan terhadap kapal militer dan lalu lintas pelayaran komersial.
Profil daya tahan kendaraan—mampu beroperasi terus menerus hingga empat hari—merupakan bagian penting operasional yang signifikan untuk sistem drone bawah air seperti di Selat Hormuz.
Hal itu memungkinkan drone untuk memantau, membuntuti, dan berpotensi menyerang target tanpa memerlukan pengawasan manusia terus-menerus atau tautan komando langsung.
Dengan jangkauan operasional yang diproyeksikan melebihi 600 kilometer, kendaraan bawah air tak berawak Azhdar dapat dengan tenang melintasi perairan sempit Teluk Persia dan jalur pelayaran di sekitarnya. Hal itu mempersulit perencanaan perlindungan kekuatan angkatan laut untuk armada regional dan koalisi maritim internasional.
Karena drone bawah air tidak memerlukan akomodasi awak atau sistem pendukung kehidupan di dalamnya, platform Azhdar dapat mengalokasikan lebih banyak volume internal untuk penyimpanan energi dan muatan misi.
Dalam lingkungan seperti itu, kendaraan tanpa awak yang beroperasi di bawah permukaan dan memiliki kemampuan siluman dapat menciptakan ketidakpastian bagi komandan angkatan laut yang bertanggung jawab untuk melindungi kapal dagang melalui koridor maritim yang sempit dan padat lalu lintas.
Oleh karena itu, potensi pengerahan kendaraan bawah air tak berawak Azhdar oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) oleh Iran menghadirkan variabel yang mengganggu dinamika keamanan Teluk.
Menurut otoritas maritim dan analis, drone angkatan laut telah digunakan dalam setidaknya dua serangan terhadap kapal tanker minyak di wilayah Teluk sejak perang meletus antara AS, Israel, dan Iran. Ini menunjukkan ancaman baru yang berbahaya di jalur pelayaran utama.
Seperti dilansir Reuters, munculnya penggunaan kapal permukaan tak berawak yang bermuatan bahan peleda telah digunakan Ukraina dengan sangat efektif dalam perangnya dengan Rusia. Kini drone itu digunakan Iran untuk memblokir pengiriman minyak yang melewati Selat Hormuz, titik penting bagi seperlima minyak dunia.
Menurut stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak, yang diyakini milik Amerika Serikat. "Serangan drone bawah laut tersebut meledakkan dua kapal tanker minyak di Teluk Persia malam ini," katanya.
Saluran televisi pemerintah al-Ikhbariya menyiarkan gambar sebuah kapal di laut dengan kepulan asap yang membubung dari kebakaran besar. Video-video kobaran api juga banyak dibagikan di media sosial.
Selat Hormuz adalah saluran air selebar 55 kilometer antara Iran dan Oman, yang memisahkan Teluk Persia dari Laut Arab. Selat ini merupakan jalur pelayaran yang sangat penting secara global dalam sektor energi dan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia.
Sekitar 13 juta barel minyak per hari biasanya melewati perairan Hormuz. Angka itu sekitar 31 persen dari pengiriman minyak global.
Penutupan selat ini akan memengaruhi pelabuhan-pelabuhan utama milik Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, serta Iran sendiri. Bagi beberapa negara ini, selat tersebut merupakan jalur utama yang dilalui minyak untuk mencapai pasar global.
Pemblokiran selat ini dapat semakin meningkatkan biaya barang dan jasa di seluruh dunia, terutama minyak, dan akan berdampak pada beberapa ekonomi terbesar di dunia, termasuk Tiongkok, India, dan Jepang, yang merupakan importir minyak mentah terbesar melalui jalur air ini.
