Harga Minyak Tembus 119 USD per Barel, Pertamax Bisa Mendekati Rp20.700 per Liter

Harga Minyak Tembus 119 USD per Barel, Pertamax Bisa Mendekati Rp20.700 per Liter

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Harga Minyak Tembus 119 USD per Barel, Pertamax Bisa Mendekati Rp20.700 per Liter

GELORA.CO -
Lonjakan harga minyak dunia ke level US$119 per barel memicu perhatian terhadap potensi kenaikan harga BBM di Indonesia, termasuk Pertamax yang dijual oleh Pertamina.

Kenaikan harga minyak global tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, sehingga memicu kekhawatiran pasar energi internasional.

Seiring kenaikan harga minyak dunia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sejumlah perhitungan kasar menunjukkan harga Pertamax secara teoritis dapat berada di kisaran Rp20.700 per liter jika seluruh faktor biaya mengikuti pergerakan minyak mentah global.

Harga minyak dunia melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir setelah konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas.

Kontrak minyak mentah Brent sempat menyentuh US$119,50 per barel.

Sementara minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate atau WTI mencapai US$119,48 per barel.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pasar energi juga mencermati potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Gangguan di jalur tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi internasional.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami tekanan.

Kurs rupiah dilaporkan mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Kombinasi lonjakan harga minyak global dan pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor energi bagi negara yang bergantung pada pasokan minyak luar negeri, termasuk Indonesia.

Jika dikonversikan menggunakan kurs sekitar Rp16.950 per dolar AS, harga minyak mentah Brent sebesar US$119,50 per barel setara dengan sekitar Rp2.025.525 per barel.

Satu barel minyak mentah setara dengan 159 liter.

Dengan perhitungan tersebut, harga minyak mentah berada di kisaran Rp12.739 per liter sebelum memasukkan biaya pengolahan, distribusi, pajak, dan margin perusahaan.

Sementara itu, minyak mentah WTI dengan harga US$119,48 per barel setara sekitar Rp2.025.186 per barel atau sekitar Rp12.735 per liter.

Harga tersebut menggambarkan biaya bahan baku minyak mentah sebelum diolah menjadi produk BBM.

Sebagai perbandingan, pada September 2022 harga Pertamax sempat mencapai Rp14.500 per liter.

Pada periode tersebut harga minyak dunia berada di sekitar US$95 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp14.900 per dolar AS.

Jika dihitung menggunakan parameter tersebut, harga minyak mentah saat itu berada di kisaran Rp8.900 per liter.

Artinya, biaya minyak mentah dalam rupiah saat ini sekitar 43 persen lebih tinggi dibandingkan periode ketika Pertamax berada pada harga tertingginya pada 2022.

Berdasarkan pendekatan perhitungan sederhana, kenaikan biaya minyak mentah tersebut berpotensi mendorong harga Pertamax ke kisaran yang lebih tinggi.

Jika kenaikan 43 persen tersebut diterapkan pada harga Pertamax Rp14.500 per liter, maka secara teoritis harga dapat mencapai sekitar Rp20.700 per liter.

Perhitungan tersebut belum memperhitungkan faktor inflasi domestik sejak 2022.

Jika memasukkan estimasi inflasi kumulatif sekitar 12 hingga 15 persen, maka harga secara matematis dapat berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp23.800 per liter.

Meski demikian, harga BBM di Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia secara langsung.

Penetapan harga BBM dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kebijakan stabilisasi harga pemerintah, strategi bisnis perusahaan energi, kontrak pembelian minyak jangka panjang, serta biaya pengolahan di kilang domestik.

Perusahaan energi juga kerap menggunakan mekanisme lindung nilai atau hedging dalam pembelian minyak mentah.

Skema tersebut membuat harga bahan baku tidak selalu mengikuti fluktuasi pasar spot secara langsung.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak global tetap menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan energi di berbagai negara.

Ketegangan geopolitik di kawasan produsen minyak sering memicu kenaikan harga karena pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga komoditas energi.

Analis komoditas Norbert Rucker menyebut lonjakan harga minyak saat ini sebagian besar dipicu oleh meningkatnya premi risiko geopolitik di pasar energi.

Menurutnya, setiap eskalasi konflik di wilayah produsen minyak utama hampir selalu mendorong pasar menaikkan harga sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan.

Ia menjelaskan kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental pasar energi.

Sebagian pergerakan harga juga dipengaruhi sentimen pasar serta kekhawatiran investor terhadap perkembangan konflik geopolitik.

Sejumlah analis energi bahkan  memperkirakan harga minyak dunia dapat terus meningkat jika konflik di Timur Tengah meluas.

Dalam skenario ekstrem, harga minyak mentah berpotensi menembus US$150 per barel apabila terjadi gangguan besar terhadap produksi atau distribusi minyak global.

Perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang.***
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita