AS dan Israel Dilaporkan Mulai Berselisih Gara-Gara Minyak Iran Dibombardir

AS dan Israel Dilaporkan Mulai Berselisih Gara-Gara Minyak Iran Dibombardir

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Amerika Serikat (AS) dilaporkan kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar Iran pada akhir pekan pekan kemarin. Kekecewaan ini menjadi perbedaan pendapat yang menonjol pertama antara kedua sekutu sejak dimulainya penyerbuan terhadap Iran. Demikian lapor Axios, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Laporan itu menyebutkan bahwa serangan pada Sabtu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, jumlah yang melebihi perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.

Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran. Asap tebal terlihat membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.

Pernyataan pihak militer Israel menyebutkan bahwa depot bahan bakar yang menjadi sasaran serangan itu digunakan pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.

Para pejabat AS mengatakan Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.

“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.

Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis sehingga berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran. Kerusakan minyak juga mendorong kenaikan harga minyak global.

“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.

Laporan itu menyebutkan bahwa meskipun fasilitas yang diserang bukan merupakan lokasi produksi minyak, para pejabat di Washington khawatir rekaman yang memperlihatkan depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi.

Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.

Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya Iran, yang mengawasi operasi militer, mengatakan Teheran dapat merespons dengan serangan serupa di berbagai wilayah jika serangan semacam itu terus terjadi.

Ia menambahkan bahwa Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan, namun memperingatkan bahwa jika langkah tersebut diambil, harga minyak global dapat melonjak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel..

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Teheran akan melakukan pembalasan 'tanpa penundaan' jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak Israel dan AS melancarkan duet serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 lainnya.

Iran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Irak, Yordania, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, sebagai bentuk mempertahankan diri.

 AS incar minyak Iran


Serangan AS ke Iran bukan sekadar persoalan klaim senjata nuklir yang tak jelas. AS ditengarai ingin menggulingkan pemerintahan Iran untuk mencuri minyak mentah Teheran.

Hal itu setidaknya tergambar dari pernyataan senator senior AS dari Republik, partai yang mendukung Donald Trump. 

Menurut Lendsey Graham, AS akan mengendalikan hampir sepertiga minyak dunia dan meraih keuntungan rekor jika berhasil menggulingkan pemerintah Iran.

Graham menyampaikan komentar tersebut pada Ahad (8/3/2026) kepada Fox News ketika harga minyak global melonjak melewati $100 per barel.

Harga minyak itu digambarkan Presiden AS Donald Trump masih sangat kecil atas perang AS-Israel melawan Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari.

Graham menggambarkan biaya serangan tersebut sebagai uang terbaik yang pernah dikeluarkan dengan alasan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang telah dibantah Iran.

"Ketika rezim ini jatuh, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru, kita akan menghasilkan banyak uang. Tidak ada yang akan mengancam Selat Hormuz lagi," kata Graham, menambahkan bahwa AS akan memasang pemerintahan yang "ramah" di Teheran.

“Venezuela dan Iran memiliki 31% cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31% cadangan yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang baik.”
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita