Ini Risiko Indonesia Jika Bangun Kerja Sama Drone dengan Iran

Ini Risiko Indonesia Jika Bangun Kerja Sama Drone dengan Iran

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Iran menawarkan kerja sama pengembangan pesawat tanpa awak (drone) kepada Indonesia. Tawaran itu terbilang cukup menarik, mengingat teknologi drone Teheran yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya.

Pesawat tanpa awak negara Mullah itu telah menjadi momok menakutkan buat Israel. Namun tak hanya untuk kebutuhan militer tapi juga drone buat kebutuhan sipil.

Iran memiliki sejumlah seri drone, seperti Shared, Moajer, Arash, Kaman hingga Karra. Qoads Aviation Industries merupakan perusahaan yang selam ini mengembangkan pesawat tanpa awak negara itu.

Salah satu kelebihan dari drone Iran yakni, mereka mampu membuat pesawat tanpa awak dengan biaya cukup murah. Sebuah laporan menyebut biaya produksi Iran berkisar antara 35.000 hingga 40.000 dolar AS per unit sementara produsen AS bisa mematok harga 41 juta dolar AS untuk model sebanding.

Jika Indonesia, mau menerima pengembangan drone dari Iran, maka Jakarta bukan negara pertama untuk produksi pesawat tanpa awak itu. Pada 17 Mei 2022, Iran meresmikan pabrik drone di negara tetangganya, Tajikistan. Pabrik tersebut secara resmi merupakan fasilitas produksi drone pertama Iran di luar negeri .

Hanya saja harus diakui, dibandingkan dengan negara lain seperti Turki yang juga punya kemampuan tak kalah hebat dalam pengembangan drone, kerja sama RI-Iran akan lebih sulit.

Ini mengingat Iran telah menjadi 'incaran' negara-negara Barat khususnya terkait pengembangan senjata yang dinilai menjadi sebuah ancaman. Iran selama ini menjadi salah satu pemasok utama drone ke Rusia.

Pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) Agung Nurwijoyo mengakui kerja sama dengan Iran dalam pengembangan teknologi drone memang mengandung risiko. Agung menilai potensi tekanan dari negara lain sangat mungkin terjadi, meski tidak selalu terbuka.

“Potensi adanya tekanan tentu ada dan sangat mungkin meski tidak selalu secara terbuka dan frontal. Pressure by layers. Kita mungkin tidak akan dimusuhi tapi ada ukuran ulang dari tingkat kepercayaan strategis,” katanya kepada Republika. 

Ia menyebut tekanan dapat meningkat drastis apabila kerja sama drone itu berkaitan langsung dengan pertahanan dan konflik Timur Tengah. Karena itu, ia menilai penting bagi Indonesia untuk menegaskan kerangka kerja sama.

“Pandangan saya, tekanan akan meningkat drastis jika drone terkait langsung dengan pertahanan/militer dan konflik di Timur Tengah. Tentu poin terakhir ini bukan dalam konteks terseret secara militer tapi narasi dan persepsi memfasilitasi normalisasi teknologi konflik," ujarnya.

Untuk itu, kata ia, penting membentuk sebuah desain kebijakan yang menegaskan dan fokus pada ekonomi.

Agung berpendapat Pemerintah Indonesia pasti akan memperhitungkan dampak diplomatiknya. Ia yakin Presiden Prabowo menyadari akan pengaruh terhadap kondisi geopolitik jika membangun kerja sama teknologi drone dengan Iran

"Kita yang tidak ingin kehilangan Barat sebagai mitra, dan kedekatan strategis kita dengan negara Global South. Jadi, ini sebenarnya tidak sekedar bicara bisa atau tidaknya tapi seberapa rapi desain politik dan kebijakan luar negeri Indonesia,” katanya.

Dilansir laman Kemendag, total perdagangan Indonesia - Iran mencapai 206,9 juta dolar AS dan tren dalam 5 tahun terakhir turun sebesar 19.31%. Produk Impor Non Migas Utama Indonesia dari Iran (dalam USD juta): 1) Dates (5.0); 2) Petroleum Coke (3.0); 3) Alkaloids, natural or reproduced by synthesis (1.4); 4) Grapes, fresh or dried (0.9); 5) Instruments and appliances used in medical (0.5). Kemudian terdapat 73 proyek investasi Iran di Indonesia dengan nilai USD 0,9 juta

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan Teheran tengah mengupayakan kerja sama dengan Indonesia di bidang teknologi baru. "Saat ini kami sedang mengupayakan kerja sama antara kedua pihak, perusahaan Iran dan Indonesia," kata Dubes Boroujerdi dalam wawancara khusus di Jakarta, Sabtu (14/2/2026)

Boroujerdi menyatakan, Iran merupakan salah satu negara yang sangat maju di dunia dalam bidang teknologi baru. Iran pun dinilai sangat unggul di bidang nanoteknologi, bioteknologi, nuklir, teknologi damai, teknologi kesehatan, produksi peralatan kesehatan, teknologi pertanian, dan teknologi baru lainnya di bidang tersebut.

Indonesia dinilai tertarik untuk melakukan kerja sama di bidang tersebut. Boroujerdi menyatakan, saat ini Iran telah memiliki hubungan yang erat dengan beberapa lembaga dan badan pemerintah RI di bidang transfer teknologi, dan di bidang lain seperti drone.

"Ketika kita berbicara tentang drone, biasanya kita berpikir bahwa penggunaannya hanya untuk satu hal, tetapi sebenarnya tidak. Anda tahu bahwa ada banyak sekali cara damai untuk menggunakan drone di bidang pertanian dan sektor ekonomi lainnya," kata dia.

Dia mengatakan, Iran tengah mengupayakan kerja sama di antara perusahaan kedua negara, dan negosiasi akan dilakukan melalui webinar. Perwakilan Iran bahkan akan datang ke Indonesia atau pergi ke Iran untuk membicarakan hal tersebut.

Jika perusahaan-perusahaan Indonesia berminat untuk bekerja sama di bidang tersebut, Kedutaan Besar Iran di Jakarta siap menjembatani hubungan antara kedua belah pihak agar hal tersebut dapat terwujud.

Dorongan kerja sama tersebut merupakan bagian dari peran Iran sebagai mitra strategis Indonesia dalam bidang terkait. Boroujerdi lebih lanjut menjelaskan, Iran merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang teknologinya dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.

Belum ada respons dari pemerintah RI terkait dengan tawaran tersebut. Sebelumnya Indonesia telah melakukan kerja sama pengembangan drone dengan Turki.

Pada Februari 2025 Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyaksikan penandatanganan dan pertukaran memorandum of understanding (MoU) antara pemerintah RI dan Turki.

Salah satu klausul yang disepakati yakni Perjanjian joint venture antara Republikorp dan Baykar untuk pembuatan pabrik drone di Indonesia.

Pada tahun yang sama, Indonesia juga mulai menerima drone tempur Anka-S dari Turkish Aerospace Industries
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita