Gaikindo Bingung Indonesia Impor 105.000 Mobil dari India, Padahal Ada 7 Pabrik Kendaraan Niaga di Dalam Negeri

Gaikindo Bingung Indonesia Impor 105.000 Mobil dari India, Padahal Ada 7 Pabrik Kendaraan Niaga di Dalam Negeri

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  – Industri otomotif nasional mempertanyakan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga dari India. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kapasitas produksi dalam negeri sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut, khususnya di segmen pick-up.

Sorotan ini mencuat setelah kontrak pengadaan kendaraan untuk proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) senilai Rp24,66 triliun melibatkan dua produsen asal India. Padahal, Indonesia memiliki tujuh pabrik kendaraan niaga yang selama ini memproduksi model serupa.


Gaikindo mencatat, dari total 61 anggota, kapasitas produksi kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia mencapai 2,5 juta unit per tahun. Untuk segmen kendaraan komersial kelas menengah ke bawah seperti pick-up, kapasitas produksi bahkan menembus lebih dari 400.000 unit per tahun.

Tujuh produsen tersebut yakni PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Astra Daihatsu Motor. Sebagian besar model yang diproduksi merupakan penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen.


Model tersebut selama ini dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Selain itu, jaringan layanan purnajual dan bengkel yang luas menjadi nilai tambah bagi kendaraan produksi dalam negeri.

Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menegaskan industri nasional sebenarnya siap berkontribusi.


“Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” kata Putu Juli dalam keterangan persnya, Jumat (20/2/2026).


Dia menambahkan, jika diberikan kesempatan dan waktu yang cukup, ekosistem industri otomotif nasional mampu berpartisipasi memenuhi kebutuhan kendaraan komersial tersebut.

“Ini juga dapat menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja yang saat ini berpotensi cukup tinggi karena penurunan permintaan pasar dalam negeri selama beberapa tahun belakangan,” ujar Putu.


Sebelumnya, proyek pengadaan kendaraan untuk KDKMP memicu kontroversi setelah diketahui melibatkan impor besar-besaran dari India. Dua produsen, yakni Tata Motors dan Mahindra & Mahindra Ltd, mendapatkan pesanan total 105.000 unit kendaraan.

Mahindra akan memasok 35.000 unit Scorpio Pick Up yang diproduksi di Nashik, India. Sementara Tata Motors melalui PT Tata Motors Distribusi Indonesia mengirimkan 70.000 unit yang terdiri atas 35.000 unit Yodha pick-up dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7.

Kesepakatan ini diumumkan pada awal Februari 2026 dan langsung menjadi perhatian pelaku industri nasional. Sebab, penjualan domestik kendaraan bermotor saat ini masih berada di bawah 1 juta unit per tahun, meski ekspor mencatatkan capaian lebih dari 518.000 unit ke 93 negara.

Gaikindo berharap kebijakan pemerintah dapat mempertimbangkan optimalisasi produksi dalam negeri. Langkah tersebut dinilai bukan hanya memperkuat industri nasional, tetapi juga menjaga stabilitas tenaga kerja serta keberlanjutan ekosistem otomotif Indonesia

Sumber: inews 
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita