Epstein Jadi Jembatan Barat Goyang Putin? Ini Buktinya

Epstein Jadi Jembatan Barat Goyang Putin? Ini Buktinya

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Epstein Jadi Jembatan Barat Goyang Putin? Ini Buktinya

GELORA.CO -
  Dokumen Jeffrey Epstein kembali membuka kotak Pandora, memperlihatkan labirin hubungan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar skandal seksual. Di dalamnya, terselip fragmen ambisi geopolitik yang gagal, termasuk upaya Epstein untuk menyentuh pusaran kekuasaan Rusia.

Salah satu catatan mengungkap rekomendasi dari Boris Nikolic agar Epstein bertemu dengan Ilya Ponomarev, mantan anggota Duma Rusia yang kini menjadi pengasingan diri di Ukraina dan dikenal sebagai penyelenggara gerakan melawan Vladimir Putin. Rekomendasi ini, yang bertujuan agar Epstein "membantu" Ponomarev, mengindikasikan minat si finansier terhadap dinamika oposisi Rusia.

Namun, upaya untuk menjatuhkan Putin dari luar selalu terbentur pada realitas kokohnya konsolidasi kekuasaan di Moskow, yang didukung oleh aparatus keamanan, militer, dan basis politik yang solid. Jika memang ada skema, ia berakhir sebagai catatan kaki yang gagal dalam berkas, mencerminkan batas pengaruh uang terhadap realpolitik yang telah mengakar, sebagaimana diberitakan Daily Sabah.

Sementara narasi tentang "mata-mata Rusia" yang dihembuskan media tertentu seperti Daily Mail dan The Telegraph, dan diulangi oleh figur seperti Christopher Steele, berusaha membelokkan pusat gravitasi skandal ini ke arah Kremlin, bukti dalam dokumen justru mengarah ke tempat lain.

Epstein tampaknya lebih merupakan hunter daripada asset; ia aktif mencari akses kepada Putin melalui jaringan kontaknya, termasuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, untuk menawarkan skema finansial, bukan menerima perintah.

Narasi konspirasi yang dibangun, dengan dasar seperti gaya topi atau "ribuan pesan samar", terasa rapuh bagai rumah kartu ketika berhadapan dengan fakta bahwa intelijen Israel, melalui hubungan Epstein dengan Ghislaine Maxwell (putri Robert Maxwell yang disebut sebagai aset Mossad), memiliki pijakan yang lebih substantial dalam jaringan ini, sebagaimana diberitakan RT.

Upaya mengaitkan Epstein dengan Rusia lebih menyerupai upaya pengalihan isu, sebuah refleksi dari kepanikan elit yang berusaha menyembunyikan boroknya sendiri di balik tabir musuh yang sudah dikenal.

Resonansi skandal ini justru lebih keras di koridor kekuasaan Barat, mengungkap paradoks yang pahit. Di Amerika Serikat, pusat operasi Epstein, tidak ada pertanggungjawaban hukum yang berarti terhadap rekan-rekan tingkat tingginya, seolah-olah skandal ini adalah drama elite yang dibiarkan menguap.

Sebaliknya, di Inggris, karir politik Peter Mandelson, duta besar untuk AS di bawah Keir Starmer, runtuh berantakan karena hubungannya dengan Epstein, meski media yang gencar menyoroti "koneksi Rusia" Epstein enggan menyelami hubungan Mandelson sendiri dengan dunia Rusia.

Tanggapan resmi Moskow, melalui Maria Zakharova, mengejek absurditas ini: ketika bukti kejahatan para pemimpin Barat sendiri bertebaran, mereka justru asyik membahas hantu Rusia. Seperti yang dikatakan Kirill Dmitriev, ini adalah tanda keputusasaan elit yang "berada di tahap akhir".

Kasus Epstein bukan sekadar kisah kejahatan seksual, tetapi cermin retak dari permainan kekuasaan global, di mana narasi dibentuk, kambing hitam dicari, dan pertanyaan terbesar, siapa yang benar-benar membiarkan semua ini terjadi, tetap menggantung tanpa jawaban yang memuaskan.

Tak Bisa Lepas dari Epstein


Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan bisa lepas dari polemik skandal Jeffrey Epstein sebelum seluruh dokumen terkait dirilis ke publik secara transparan. Dalam pidatonya di Senat pada Rabu (4/2), Schumer menyatakan bahwa kebenaran sepenuhnya merupakan syarat mutlak agar publik bisa melangkah maju (move on).

"Amerika tidak akan move on dari berkas Epstein sampai mendapatkan seluruh kebenaran, kebenaran sepenuhnya," ujar Schumer.

Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap sikap Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyarankan agar publik mengakhiri pembahasan kasus ini menyusul rilis dokumen terbaru. Trump mengklaim dirinya merupakan korban persekongkolan dalam pusaran kasus tersebut. Namun, Schumer menilai pernyataan presiden tersebut bertentangan dengan janji kampanye Trump mengenai transparansi penuh.

Poin-Poin Utama Pernyataan Chuck Schumer:


Jutaan Dokumen Masih Misterius: Schumer menyebut jutaan dokumen masih "terselubung kegelapan" dan mempertanyakan informasi apa yang sengaja disembunyikan dari masyarakat, termasuk potensi keterkaitan Donald Trump di dalamnya.

Independensi Departemen Kehakiman (DOJ): Schumer menuding Departemen Kehakiman saat ini telah kehilangan independensinya dan hanya berfungsi sebagai alat politik Presiden. "Trump memilih orang-orang di DOJ untuk menjadi anjing penyerangnya, bonekanya sendiri," tegasnya.

Tuntutan Transparansi: Isu ini ditegaskan tidak akan mereda selama pemerintah masih menahan dokumen-dokumen krusial yang diduga mengandung rincian keterlibatan tokoh-tokoh elite global.

Jeffrey Epstein sendiri ditemukan tewas di sel penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks anak. Meskipun rilis dokumen pekan lalu telah menyebut sejumlah nama besar, Schumer meyakini bahwa apa yang dibuka saat ini belum mendekati fakta yang sebenarnya.

Masyarakat dapat memantau perkembangan rilis dokumen ini melalui Situs Resmi Senat AS atau laporan pembaruan dari Departemen Kehakiman AS (DOJ).
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita