GELORA.CO - Tiga dekade telah berlalu sejak kepergian sang legenda grunge, Kurt Cobain, pada tahun 1994. Namun, misteri di balik kematian pentolan Nirvana ini kembali memanas dan mengguncang dunia internasional di awal tahun 2026.
Melansir laporan dari Euro News, Rabu, 11 Februari 2026, seorang spesialis forensik ternama, Brian Burnett, secara resmi menuntut pihak Seattle Police Department (SPD) untuk membuka kembali penyelidikan kematian Cobain.
Bukan tanpa alasan, Burnett bersama tim forensik independennya membawa temuan mengejutkan: Kurt Cobain diduga kuat tewas dibunuh, bukan bunuh diri.
Temuan Janggal: Tempat Kejadian Diduga Direkayasa
Dalam analisis terbarunya, Burnett pun menegaskan bahwa adanya kejanggalan pada bukti-bukti lama yang selama ini luput dari perhatian serius. Ia bahkan tak ragu menyebut bahwa lokasi kejadian sengaja direkayasa agar terlihat seperti tindakan bunuh diri.
"Ini adalah pembunuhan. Kita harus melakukan sesuatu mengenai hal ini," ungkap Burnett kepada Daily Mail yang dikutip pada Kamis, 12 Februari 2026.
Pernyataan senada diperkuat oleh Michelle Wilkins, anggota tim forensik Burnett. Setelah mengkaji secara mendalam hasil otopsi asli kematian Kurt Cobain, Wilkins menyajikan sepuluh poin bukti yang sangat kontras dengan pernyataan resmi yang dirilis pihak Seattle Police Department selama 32 tahun terakhir.
Teori Overdosis Sebelum Penembakan
Tim forensik ini menyodorkan skenario mengejutkan: Cobain diduga dihadang oleh satu atau lebih penyerang. Mereka diduga memaksa sang musisi mengonsumsi dosis heroin yang melumpuhkan dirinya sebelum akhirnya menembak kepalanya dengan senapan laras ganda (shotgun Remington Model 11) kaliber 20.
Pelaku kemudian dituduh meletakkan senjata tersebut di lengan Cobain dan meninggalkan catatan wasiat bunuh diri palsu.
“Ada hal-hal dalam otopsi yang menunjukkan orang ini tidak mati dengan cepat karena ledakan tembakan,” ungkap Michelle Wilkins.
Wilkins juga menyebutkan bahwa pelantun hit "Lithium" itu meninggal karena overdosis.
"Nekrosis otak dan hati terjadi karena overdosis. Itu tidak terjadi pada kematian akibat senapan," lanjutnya.
Kejanggalan lain juga ditemukan pada kondisi TKP yang dianggap "terlalu rapi". Tim forensik mencatat bahwa lengan baju Kurt Cobain dalam posisi tergulung rapi. Sementara itu, kotak peralatan heroin dengan jarum suntik ditemukan beberapa meter dari jasad Cobain dalam kondisi yang telah tertutup secara sempurna.
“Kita seharusnya percaya dia menutup jarum suntik dan mengembalikan semuanya ke keadaan semula setelah menembak tiga kali, karena itulah yang dilakukan seseorang saat mereka bernafas,” kata Wilkins.
"Bunuh diri itu biasanya berantakan, sementara adegan ini sangatlah bersih," ungkapnya.
Meski desakan dari pakar forensik untuk membuka kasus kematian Cobain semakin menguat, otoritas resmi di Seattle tampaknya masih menutup pintu tersebut. King County Medical Examiner's Office menyatakan bahwa mereka belum melihat adanya bukti baru yang cukup kuat untuk mengubah kesimpulan awal.
“Kantor kami selalu terbuka untuk meninjau kembali kesimpulannya jika ada bukti baru yang terungkap, namun hingga saat ini kami belum melihat apa pun yang memerlukan pembukaan kembali kasus ini dan keputusan kematian kami sebelumnya," ungkap pihak King County Medical Examiner's Office.
Sementara itu, juru bicara Seattle Police Department juga menegaskan bahwa penyelidikan ini tidak akan dibuka kembali untuk dilanjutkan.
“Detektif kami menyimpulkan bahwa dia meninggal karena bunuh diri, dan ini terus dipegang oleh departemen ini,” tutup pihak kepolisian kepada Daily Mail.
