GELORA.CO - Insiden kekerasan yang melibatkan oknum guru dan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, mendadak viral di media sosial.
Video viral berdurasi hampir satu menit itu merekam aksi adu jotos antara seorang guru dengan sejumlah murid di lingkungan sekolah.
Peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, Selasa pagi (13/1/2026).
Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat seorang guru terlibat keributan fisik dengan beberapa siswa, bahkan sempat dilerai oleh guru lain.
Awal Mula Keributan Guru dan Murid
Berdasarkan pengakuan sang guru bernama Agus Saputra, awalnya dia tengah berjalan di depan kelas.
Ia mendengar salah satu siswa meneriakkan dan menegurnya kata-kata yang dinilainya tidak sopan dan melecehkan.
“Dia menegur saya dengan kata-kata yang tidak hormat dan tidak sopan saat jam pelajaran,” kata Agus saat memberikan keterangan, Rabu (14/1/2026).
Merasa teguran tersebut melanggar etika, Agus kemudian masuk ke dalam kelas dan meminta siswa yang mengucapkan kalimat tersebut untuk mengakui perbuatannya.
Salah satu siswa akhirnya mengaku, namun situasi justru memanas karena siswa tersebut disebut menantang balik.
Dalam kondisi emosi, Agus mengakui secara refleks menampar siswa tersebut.
Tindakan itu, menurutnya, dimaksudkan sebagai bentuk pembinaan moral.
Namun, respons siswa justru semakin agresif hingga memicu keributan yang lebih besar.
Murid Sebut Ada Ucapan Hinaan dari Guru
Di sisi lain, sejumlah siswa mengklaim kemarahan mereka dipicu oleh ucapan Agus yang dianggap menghina salah satu murid dengan kata 'miskin'.
Tudingan jika sang guru mengatakan 'miskin' itu kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi bahan perdebatan publik.
Menanggapi hal itu, Agus membantah keras tudingan tersebut.
Ia menyatakan bahwa kalimat yang dilontarkannya berada dalam konteks motivasi, bukan penghinaan personal.
“Saya tidak bermaksud mengejek. Itu kalimat motivasi secara umum, agar siswa yang kurang mampu tidak melakukan hal-hal negatif,” ujarnya.
Upaya mediasi sempat dilakukan oleh pihak sekolah dengan melibatkan guru-guru lain.
Agus bahkan menawarkan dua pilihan, yakni siswa membuat petisi jika tidak ingin dirinya mengajar lagi, atau meminta para siswa memperbaiki sikap.
Namun, siswa justru meminta Agus menyampaikan permintaan maaf.
Mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan. Ketegangan pun berlanjut hingga akhirnya terjadi pengeroyokan.
Pengeroyokan hingga Aksi Acungkan Celurit
Menurut Agus, insiden pengeroyokan terjadi saat dirinya berjalan menuju ruang guru bersama pihak komite sekolah.
Sejumlah siswa tiba-tiba mengeroyoknya hingga menyebabkan luka memar di bagian tubuh dan pipi.
Keributan tak berhenti di situ. Setelah jam pelajaran selesai, beberapa siswa disebut kembali mengejar dan melempari Agus dengan batu.
Dalam situasi terdesak, Agus terlihat dalam video lain mengacungkan celurit.
Agus mengakui tindakan tersebut, namun menegaskan bahwa itu hanya untuk menakut-nakuti agar siswa membubarkan diri.
“Kami ini SMK pertanian, alat seperti celurit memang tersedia di kantor. Saya lakukan itu agar mereka bubar, bukan untuk melukai siapa pun,” jelasnya.
Namun, menurut pengakuannya, aksi tersebut justru tidak membuat siswa mundur.
Situasi semakin sulit dikendalikan hingga akhirnya pihak sekolah kembali melerai.
Disdik Jambi Turun Tangan
Pasca kejadian, Agus melaporkan insiden tersebut ke Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi.
Ia berharap ada penyelesaian adil dan menyeluruh atas peristiwa yang mencederai dunia pendidikan itu.
Disdik Provinsi Jambi menyatakan akan menyelidiki insiden perselisihan antara seorang guru bahasa Inggris dan beberapa siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, yang videonya sempat viral di media sosial.
“Kami segera menindaklanjuti kejadian ini. Tim dari bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) bersama bidang SMK Disdik akan langsung turun ke SMKN 3 Tanjab Timur untuk melakukan pendalaman,” ujar Plt Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Muhammad Umar, Rabu (14/1/2026).
Umar menyesalkan insiden tersebut. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat belajar dan menimba ilmu, bukan arena konflik yang berujung kekerasan fisik.
Ia berharap seluruh warga sekolah dapat bertindak bijak agar proses pembelajaran tetap berjalan lancar.
Terkait oknum guru dan siswa yang terlibat, Disdik berencana memberikan pembinaan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan BKD Provinsi Jambi untuk menindaklanjuti hasil pembinaan tersebut,” tambah Umar.
