GELORA.CO - Perpindahan Thomas Djiwandono dari posisi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) ke jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai sebagai pintu pembuka terjadinya reshuffle kabinet.
Pergantian Thomas membuka satu kursi kosong di jabatan Wakil Menteri Keuangan. Era baru ini memunculkan spekulasi tentang siapa yang akan mengisi posisi tersebut, di mana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Juda Agung sebagai calon kuat pengganti Thomas.
Pernyataan ini menjadi salah satu sinyal bahwa ada pergeseran peran dan sumber daya manusia di tubuh pemerintah, yang berpotensi mendorong reshuffle lebih luas di kabinet.
Siapa Kandidat Kuat Wamenkeu?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah buka suara soal sosok yang akan menggantikan Thomas Djiwandono sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Thomas sudah terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Komisi XI DPR RI, Senin kemarin.
Menurut Purbaya, Juda Agung merupakan calon terkuat untuk menjadi Wamenkeu.
Purbaya tak menampik adanya isu tukar guling jabatan, Thomas menjadi Deputi Gubernur BI dan Juda Agung menjadi Wakil Menteri Keuangan.
"Kelihatannya. Saya sudah ketemu dengan beliau (Juda) dan kelihatannya dia calon, salah satu calon yang kuat," katanya saat ditemui di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Juda Agung sendiri dikenal sebagai seorang ekonom senior dan bankir sentral yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2022–2027.
Sebelum menduduki posisi strategis tersebut, ia meniti karier panjang di Bank Indonesia sejak tahun 1991 dan sempat memegang berbagai jabatan krusial, seperti Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial serta Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) mewakili South-East Asia Voting Group.
Lulusan doktor dari University of Birmingham ini dikenal memiliki keahlian mendalam di bidang kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, dan pengembangan ekonomi hijau.
Budisatrio Djiwandono
Nama Budisatrio Djiwandono disebut menguat untuk masuk menjadi bagian dari pemerintah, menyusul pernyataan Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto.
Budi Djiwandono diketahui menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, luar negeri, dan komunikasi. Ia juga memiliki posisi strategis di internal partai sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPR RI.
Budi Djiwandono diisukan bakal digeser menjadi Menteri Luar Negeri, menggantikan Sugiono.
Sugiono sendiri diisukan bakal menduduki jabatan di salah satu menteri koordinator (Menko).
Budi menanggapi kabar dirinya disebut bakal menjadi bagian eksekutif atau pemerintahan di Kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Legislator Gerindra itu mengaku tak mengerti mengapa dirinya bisa dikabarkan akan meninggalkan DPR dan menjadi bagian eksekutif.
"Nggak tahu, makanya tanyakan pada Pak Utut. Tugas kita tetap sekarang di Komisi I," kata Budi ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Adapun kabar Budi Djiwandono bakal digeser menjadi Menlu menguat setelah koleganya Ketua Komisi I DPR R Utut Adianto, memberikan sinyal kuat mengenai masa depan politik keponakan Prabowo itu.
Hal itu disampaikan Utut saat membuka rapat kerja bersama Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kepala BIN di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026) kemarin.
Awal membuka rapat, Utut menyapa para petinggi pertahanan dan keamanan yang hadir. Namun, suasana menjadi menarik saat ia memberikan "kode" bahwa rekan pimpinannya yang duduk di sebelah kanan, yakni Budisatrio, diduga kuat akan segera berpindah tugas ke jajaran pemerintahan atau eksekutif.
Reaksi Menlu Sugiono
Sementara Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono merespons lewat senyum saat ditanya terkait isu reshuffle kabinet yang mencuat kembali. Adapun Sugiono sendiri mengaku belum mendengar kabar tersebut.
"Saya baru dengar," kata Sugiono di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Dia mengatakan pertanyaan mengenai reshuffle seharusnya ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Saat kembali ditanyai soal isu reshuffle menyusul Thomas Djiwandono yang resmi disahkan jadi Deputi Gubernur BI, dia menegaskan hal tersebut adalah wewenang Presiden.
Gantikan Pratikno?
Menlu Sugiono disebut akan menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai kabar pergeseran posisi Sugiono menjadi Menko PMK lebih tepat dibaca sebagai reposisi.
Menurut dia perpindahan jabatan itu bukan reshuffle yang sarat konflik politik.
“Saya lebih melihat reposisi saja, Presiden Prabowo punya mahzab ‘Rangkulisme’ semua. Apalagi ini mitra koalisi terdekat,” ujar Agung saat dimintai konfirmasi, Selasa (27/1/2026).
Terkait kabar Pratikno yang disebut akan menjadi penasihat presiden, Agung menyebut informasi yang beredar menyebut faktor kesehatan menjadi salah satu pertimbangan.
“Yang saya dengar Pak Tik sakit, sehingga beliau diarahkan tetap di kabinet tapi sifatnya sebagai ‘penasehat’,” katanya.
Agung juga menepis anggapan bahwa reposisi itu berpotensi menimbulkan resistensi antara Presiden Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Isu Pergantian Menkomdigi
Pos lain yang diisukan mengalami pergantian adalah Kementerian Komunikasi dan Digital.
Nama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Angga Raka Prabowo digadang bakal menjadi Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid.
Meutya Hafid sendiri bungkam ketika ditanya kabar mengenai Presiden Prabowo Subianto akan melakukan reshuffle kabinet.
Usai menghadiri sebuah acara kementerian Komdigi di Sarinah, ia sempat berkeliling ke berbagai booth operator seluler yang ada.
Tak lama setelah itu, Meutya pun memberikan keterangan pers mengenai peluncuran yang baru ia lakukan.
Meutya melayani beberapa pertanyaan sebelum akhirnya meninggalkan lokasi. Wartawan Tribunnews kemudian mendekati politikus Partai Golkar tersebut.
"Bu, presiden kabarnya mau reshuffle itu bagaimana?" tanya wartawan Tribunnews kepada Meutya.
Meutya yang kala itu menggunakan pakaian serba cokelat, sempat melihat kepada wartawan Tribunnews dengan senyum yang lebar.
Namun, ketika dilontarkan pertanyaan tersebut, ia langsung berjalan menjauh.
Salah seorang pengawal Meutya menghalangi wartawan Tribunnews untuk bertanya lebih lanjut.
