4 Penyebab Henti Jantung Mendadak, Si Silent Killer Penyebab Lula Lahfah Meninggal Dunia

4 Penyebab Henti Jantung Mendadak, Si Silent Killer Penyebab Lula Lahfah Meninggal Dunia

Gelora News
facebook twitter whatsapp
4 Penyebab Henti Jantung Mendadak, Si Silent Killer Penyebab Lula Lahfah Meninggal Dunia

GELORA.CO -
  Henti jantung yang menjadi 'pembunuh senyap' masyarakat Indonesia ternyata menjadi biang kerok kematian Lula Lahfah.

Penyakit mematikan tersebut tak hanya menyerang mereka yang sudah berumur, tetapi juga muda mudi seperti Lula di usianya yang ke-26 tahun.

Kabar penyebab kematian Lula Lahfah turut disampaikan oleh tim medis pribadi melalui dokter jantung, Haryanto.

Haryanto dalam keterangannya, dikutip Sabtu (24/1/2026) menyebutkan sang penyanyi kelahiran 1999 tersebut mengalami henti jantung dan bukan tewas karena overdosis, sebagaimana yang dirumorkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Mengenali penyebab henti jantung adalah cara nomor satu yang paling efektif untuk menghindari si 'silent killer' tersebut yang dapat menyerang siapapun.

Mari simak penyebab henti jantung dan pencegahannya berikut.

Serang siapapun, bisa karena genetik


Henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest) bukanlah serangan jantung biasa.

Jika serangan jantung adalah masalah "penyumbatan aliran darah", maka henti jantung dapat dianalogikan sebagai masalah "kelistrikan" pada jantung sebagai sistem penyuplai darah ke seluruh tubuh.

Sederhananya, bayangkan tubuh manusia sebagai rumah. Serangan jantung dapat dianalogikan sebagai pipa air yang mampet, sedangkan henti jantung bagaikan korsleting listrik yang membuat seluruh lampu padam seketika.

Mengutip iteratur dalam Journal of the American College of Cardiology, penyebab utama henti jantung sering kali berkaitan dengan kondisi medis sebagai berikut

Penyakit Arteri Koroner


Penumpukan plak di arteri dapat mengganggu aliran darah dan merusak jaringan otot jantung yang memicu gangguan listrik.

Kardiomiopati


Otot jantung menebal atau melebar, sehingga jantung kesulitan memompa dan rentan terhadap aritmia (gangguan irama jantung).

Sindrom Genetik


Beberapa orang lahir dengan kelainan pada jantungnya seperti Long QT Syndrome  yang sering kali tidak terdeteksi hingga terjadi insiden fatal.

Aktivitas Fisik Berlebihan


Atlet atau individu dengan kondisi jantung tertentu harus menghindari aktivitas fisik yang sangat intens dapat memicu lonjakan adrenalin yang mengganggu irama jantung.

Mencegah lebih baik dari mengobati


Meskipun henti jantung bisa datang tanpa peringatan, sebagian besar risiko sebenarnya dapat diminimalisir melalui gaya hidup dan pemeriksaan medis yang rutin.

Berikut beberapa langkah awal untuk menghindari penyakit mematikan yang satu ini.

Deteksi Dini melalui Medical Check-Up


Jangan menunggu sakit untuk pergi ke dokter. Pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) secara berkala dapat membantu mendeteksi adanya gangguan irama jantung atau tanda-tanda penebalan otot jantung yang mungkin tidak dapat dirasakan.

Mengelola Faktor Risiko


Kesehatan jantung sangat bergantung pada apa yang orang konsumsi dan bagaimana mereka bergerak.

Mengontrol tekanan darah tinggi, menjaga kadar kolesterol tetap stabil, dan menjauhi rokok adalah fondasi utama.

Merujuk pada riset dalam The Lancet, pengendalian faktor risiko metabolik secara signifikan menurunkan probabilitas terjadinya kejadian jantung koroner yang menjadi pintu masuk henti jantung.

Mengenali Batas Kemampuan Tubuh


Berolahraga itu baik, namun mendengarkan sinyal tubuh jauh lebih penting.

Jika seseorang merasa nyeri dada, detak jantung yang terasa "meloncat-loncat", atau pusing yang hebat saat berolahraga, segera hentikan aktivitas dan konsultasikan dengan ahli medis.

Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar (BHD)


Karena henti jantung bisa terjadi di mana saja, masyarakat luas diharapkan memiliki kemampuan dasar melakukan CPR (RJP) dan mengetahui cara menggunakan AED (Automated External Defibrillator) yang kini banyak tersedia di tempat umum.

Kematian Lula Lahfah menjadi duka sekaligus pengingat bagi muda dan mudi semua bahwa usia muda bukan jaminan seseorang kebal terhadap gangguan jantung.

Adapun dengan memahami bahwa jantung memerlukan perawatan yang konsisten, generasi muda tidak hanya memperpanjang usia, tetapi juga menjaga kualitas hidup secara keseluruhan.
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita