Pelatihan dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Dinkes Kapuas, dr. H. Ahmad Haspiani, M.M.Kes., pada Senin, 1 Desember 2025. Acara ini diikuti oleh puluhan pelaku usaha DAMIU, petugas kesehatan lingkungan, dan pemangku kepentingan terkait di Aula Dinkes Kapuas. dr. H. Ahmad Haspiani menekankan peran krusial air minum aman dalam kesehatan masyarakat. “Air minum yang aman dan higienis sangat berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu, pelatihan ini kami lakukan agar pelaku usaha memahami prinsip higiene sanitasi dan mampu menerapkannya secara konsisten,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkeskotakapuas.org.
Materi pelatihan mencakup penerapan standar keamanan pangan, teknik pengelolaan air, serta mekanisme pengawasan kualitas air sesuai peraturan berlaku. Peserta diajari cara sterilisasi galon, pengujian mikrobiologi air, dan pencegahan kontaminasi bakteri seperti E. coli yang sering ditemukan di DAMIU tidak terstandar. Kegiatan ini juga memperkuat kemitraan antara pemerintah daerah dan pelaku usaha, memastikan ketersediaan air minum yang aman, higienis, dan berkualitas bagi masyarakat Kapuas.
Poltekkes Kemenkes Kapuas memainkan peran vital dalam mendukung program ini. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan, Poltekkes mengerahkan 30 mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Teknologi Laboratorium Medis untuk mendampingi pelatihan sebagai fasilitator lapangan. Direktur Poltekkes Kapuas, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini berkomitmen mendorong peningkatan higiene DAMIU melalui pendidikan dan riset. “DAMIU adalah sumber air minum utama bagi 70 persen rumah tangga di Kapuas. Kami dorong standar BPOM dan SNI agar air bebas kontaminan. Mahasiswa kami lakukan uji sampel air di 20 DAMIU prioritas, hasilnya 40 persen masih di bawah standar mikrobiologi,” jelas Dr. Siti.
Kolaborasi Poltekkes dengan Dinkes juga melibatkan pengawasan rutin dan pembinaan berkelanjutan. Pada 2025, Poltekkes telah melakukan survei 50 DAMIU di Kecamatan Mantangai dan Jaham, menemukan 25 persen galon terkontaminasi karena penyimpanan tidak higienis. “Kami ajar pelaku usaha teknik RO (reverse osmosis) yang benar dan sterilisasi UV. Ini bukan hanya pelatihan sekali, tapi monitoring bulanan untuk sertifikasi halal dan BPOM,” tambah Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator program Poltekkes.
Dampak pelatihan langsung terasa: 80 persen peserta berkomitmen terapkan SOP baru, dan Dinkes rencanakan audit lanjutan pada Januari 2026. Di Kapuas, di mana sungai sering tercemar limbah sawit, DAMIU higienis jadi solusi air minum aman. Poltekkes Kapuas membuktikan: peningkatan higiene bukan beban, tapi investasi kesehatan—untuk masyarakat Kapuas yang sehat dan mandiri.
Poltekkes Kemenkes Kapuas memainkan peran vital dalam mendukung program ini. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan, Poltekkes mengerahkan 30 mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Teknologi Laboratorium Medis untuk mendampingi pelatihan sebagai fasilitator lapangan. Direktur Poltekkes Kapuas, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini berkomitmen mendorong peningkatan higiene DAMIU melalui pendidikan dan riset. “DAMIU adalah sumber air minum utama bagi 70 persen rumah tangga di Kapuas. Kami dorong standar BPOM dan SNI agar air bebas kontaminan. Mahasiswa kami lakukan uji sampel air di 20 DAMIU prioritas, hasilnya 40 persen masih di bawah standar mikrobiologi,” jelas Dr. Siti.
Kolaborasi Poltekkes dengan Dinkes juga melibatkan pengawasan rutin dan pembinaan berkelanjutan. Pada 2025, Poltekkes telah melakukan survei 50 DAMIU di Kecamatan Mantangai dan Jaham, menemukan 25 persen galon terkontaminasi karena penyimpanan tidak higienis. “Kami ajar pelaku usaha teknik RO (reverse osmosis) yang benar dan sterilisasi UV. Ini bukan hanya pelatihan sekali, tapi monitoring bulanan untuk sertifikasi halal dan BPOM,” tambah Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator program Poltekkes.
Dampak pelatihan langsung terasa: 80 persen peserta berkomitmen terapkan SOP baru, dan Dinkes rencanakan audit lanjutan pada Januari 2026. Di Kapuas, di mana sungai sering tercemar limbah sawit, DAMIU higienis jadi solusi air minum aman. Poltekkes Kapuas membuktikan: peningkatan higiene bukan beban, tapi investasi kesehatan—untuk masyarakat Kapuas yang sehat dan mandiri.
