GELORA.CO - Bantuan untuk korban bencana di Taput dan Sibolga justru memicu kekecewaan mendalam. Beras yang dijatuhkan dari helikopter dilaporkan hancur saat menyentuh tanah, membuat banyak warga mempertanyakan efektivitas cara pendistribusian tersebut.
Sejumlah paket sembako ditemukan dalam kondisi kemasan robek, beras pecah, hingga tercecer di pemukiman warga terdampak. Situasi ini membuat bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru menjadi tak layak dikonsumsi.
Warga berharap pemerintah memperbaiki mekanisme penyaluran agar bantuan benar-benar sampai dalam keadaan baik.
“Kalau memang helikopter tak bisa mendarat, setidaknya turunkan lebih dekat atau pakai tali. Biar tidak hancur, tidak mubazir,” keluh seorang warga.
Beragam komentar bernada kecewa bermunculan. Ada yang mengira paket bantuan diturunkan menggunakan parasut, ada pula yang menyebut cara pendistribusian ini seperti dalam kondisi perang.
“Sayang sekali, pilot dan krunya ini orang baru, ya?” ujar seorang warganet.
“Sudah sering kirim bantuan lewat udara, kok masih seperti ini. Tidak belajar dari pengalaman?” tambah lainnya.
Beberapa warga bahkan mengecam keras tindakan tersebut, menilai cara melempar bantuan tanpa perlindungan seperti tindakan tidak manusiawi.
“Ini bukan perang. Kok kayak kolonial Belanda saja ngasih bantuan dilempar begitu?” ucap seorang warga.
Sebagian komentar juga menyinggung pemerintah, menilai penyaluran yang asal-asalan menunjukkan kurangnya kepedulian.
“Kenapa tidak pakai tali saja? Apa memang tidak dipikirkan dulu sebelum bertindak?”
Namun ada pula warga yang mencoba melihat situasi secara netral.
“Maksudnya ingin cepat membantu, tapi semua butuh proses dan pembelajaran,” tulis seorang warga.
Meski begitu, kekecewaan publik tetap mengemuka, terutama karena bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru rusak sebelum bisa dimanfaatkan. (*)
