Poltekkes Tarakan Soroti Penyakit Diabetes: Imbauan Semua Pihak untuk Pencegahan Dini

Poltekkes Tarakan Soroti Penyakit Diabetes: Imbauan Semua Pihak untuk Pencegahan Dini

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, semakin waspada menghadapi ancaman penyakit diabetes yang menjadi pembunuh diam-diam bagi jutaan orang di Indonesia. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Tarakan, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah perbatasan ini, aktif menyoroti isu tersebut melalui berbagai program edukasi dan pengabdian masyarakat. Dengan prevalensi diabetes yang mencapai 10,8 juta kasus pada 2023 menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Poltekkes Tarakan mengimbau seluruh pihak—mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat—untuk meningkatkan kesadaran dan pencegahan dini. Penyakit kronis ini bukan hanya masalah medis, tapi juga tantangan sosial-ekonomi yang bisa dicegah dengan gaya hidup sehat.


Direktur Poltekkes Tarakan, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa diabetes perlu menjadi perhatian semua pihak karena dampaknya yang luas. “Penyakit diabetes perlu jadi perhatian semua pihak. Ini bukan lagi penyakit orang tua, tapi juga menyerang usia produktif. Di Tarakan, dengan mobilitas tinggi pekerja perbatasan, risiko diabetes meningkat akibat pola makan tinggi gula dan kurang gerak,” ujar Dr. Siti, seperti dikutip dari https://poltekkestarakan.org. Ia menambahkan bahwa diabetes mellitus tipe 2, yang menyumbang 90 persen kasus, disebabkan oleh faktor gaya hidup seperti obesitas, konsumsi karbohidrat olahan berlebih, dan sedenter. Gejala awal seperti sering haus, buang air kecil, lelah kronis, dan penglihatan kabur sering diabaikan, sehingga komplikasi seperti gagal ginjal, stroke, atau amputasi kaki muncul di tahap lanjut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan bahwa Kalimantan Utara memiliki prevalensi diabetes 2,5 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 2 persen, dengan Tarakan sebagai pusat urbanisasi pekerja migran yang rentan. Poltekkes Tarakan merespons dengan program sosialisasi rutin di 15 desa prioritas, melibatkan 200 mahasiswa Jurusan Gizi dan Keperawatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL). “Kami ajak warga terapkan Germas: olahraga 30 menit sehari, konsumsi buah-sayur, dan cek gula darah rutin. Pencegahan lebih murah daripada pengobatan; satu tes glukosa bisa selamatkan satu nyawa,” tambah Dr. Siti. Mahasiswa Poltekkes juga lakukan skrining gratis di pasar dan posyandu, mendeteksi 150 kasus pra-diabetes sejak Januari 2025.

Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Tarakan dan BPJS Kesehatan memastikan layanan ARV dan insulin gratis bagi penderita. Namun, tantangan tetap ada: stigma yang membuat penderita enggan tes, dan akses terbatas di pulau-pulau kecil seperti Sebatik. Poltekkes rencanakan kampanye “Tarakan Bebas Diabetes” pada 2026, dengan workshop bulanan untuk 500 kader desa. “Diabetes bisa dikendalikan dengan diet rendah gula, olahraga, dan obat tepat waktu. Semua pihak harus terlibat—pemerintah, sekolah, dan keluarga,” himbau Dr. Siti.

Dengan sorotan Poltekkes Tarakan, penyakit diabetes bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, skrining rutin, dan gaya hidup sehat adalah senjata utama—untuk Tarakan sehat dan produktif di perbatasan utara.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita