Poltekkes Sumedang Kab Waspada Lonjakan Kasus TBC: 3.000 Kasus Terdeteksi Hingga Oktober

Poltekkes Sumedang Kab Waspada Lonjakan Kasus TBC: 3.000 Kasus Terdeteksi Hingga Oktober

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, memasuki fase kewaspadaan tinggi terhadap penyakit tuberkulosis (TBC) setelah tercatat 3.000 kasus terdeteksi dan ditangani oleh seluruh puskesmas hingga Oktober 2025. Angka ini mencapai 60 persen dari target penemuan kasus tahunan sebesar 5.000, menempatkan Sumedang sebagai daerah dengan beban TBC yang signifikan di Jawa Barat. Lonjakan ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Sumedang, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas tren tersebut dan mendesak percepatan deteksi dini serta pengobatan tuntas untuk cegah penularan lebih luas. Direktur Poltekkes Sumedang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa TBC bukan hanya penyakit paru, tapi ancaman kesehatan masyarakat yang bisa dicegah dengan komitmen kolektif. “3.000 kasus ini alarm bagi kami. TBC mudah menular melalui udara, terutama di rumah minim ventilasi. Kami siap dukung Dinkes melalui pelatihan mahasiswa untuk skrining dini, agar target 5.000 kasus tercapai dan pengobatan tuntas 90 persen,” ujar Dr. Siti.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dikdik Sadikin, mengungkapkan bahwa kasus terbanyak ditemukan di wilayah Sumedang Utara, dengan TBC sering muncul di kantong kemiskinan seperti rumah-rumah padat yang kurang sinar matahari dan udara segar. “Target kita menemukan 5.000 kasus TBC. Sampai triwulan terakhir sudah ada 3.000 penderita yang tercatat dan sedang ditangani,” kata Dikdik, seperti dikutip dari https://poltekkessumedangkab.org. Ia menambahkan, “TB ini banyak ditemukan di kantong-kantong kemiskinan, terutama pada rumah yang minim ventilasi sehingga udara segar dan sinar matahari sulit masuk. Kondisi itu menjadi tantangan besar dalam upaya eliminasi.” Pengobatan TBC memerlukan disiplin selama enam bulan, tapi sering terhenti karena pasien merasa sembuh setelah dua bulan, yang justru picu resistensi obat dan penularan ulang.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Sumedang, sebagai lembaga vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), 100 mahasiswa Jurusan Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat turun ke 20 puskesmas prioritas untuk edukasi TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh). “Mahasiswa kami dampingi kader desa lakukan skrining rumah ke rumah, tes cepat molekuler (TCM), dan konseling kepatuhan obat. Di Sumedang Utara, kami temukan 200 kasus dini sejak Juli 2025, yang langsung dirujuk untuk DOTS (Directly Observed Treatment Short-course),” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan lab portabel untuk uji darah, memantau efektivitas pengobatan di tingkat desa.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, mengajak seluruh elemen masyarakat berkolaborasi. “TBC tidak bisa diobati kalau tidak ditemukan, dan tidak bisa ditemukan kalau tidak diperiksa,” tegasnya. Upaya pencegahan meliputi vaksin BCG untuk bayi, ventilasi rumah yang baik, dan kampanye anti-stigma untuk kurangi diskriminasi ODHA. Dampak awal: kepatuhan pengobatan naik 25 persen di kecamatan sasaran sejak Juni 2025, berkat edukasi Poltekkes.

Dengan sorotan Poltekkes Sumedang, TBC bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, skrining, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Sumedang sehat dan bebas TBC.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita