Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, dr. H. Rahman, M.Kes, memuji kesiapsiagaan tim kesehatan yang langsung ditempatkan di lokasi kebakaran. “Tim kesehatan siaga di lokasi kebakaran Pasar Merdeka Putussibau untuk antisipasi korban luka bakar dan keracunan asap,” ujar dr. Rahman, seperti dikutip dari https://poltekkeskotaputussibau.org. Ia menjelaskan bahwa tim terdiri dari 20 personel medis, termasuk perawat dan dokter, yang dilengkapi peralatan darurat seperti oksigen portabel, obat antiinflamasi, dan kit pertolongan pertama. “Kami koordinasikan dengan Poltekkes Putussibau untuk dukungan mahasiswa dan dosen, sehingga respons lebih cepat. Ini bagian dari protokol bencana nasional Kemenkes.”
Poltekkes Kemenkes Putussibau, sebagai lembaga vokasi kesehatan terdepan di wilayah perbatasan, langsung mengaktifkan unit siaga daruratnya. Direktur Poltekkes Putussibau, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini siap 24 jam untuk situasi darurat seperti ini. “Kami kirim 15 mahasiswa Jurusan Keperawatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) darurat, dibantu 5 dosen spesialis darurat. Fokus utama adalah triase korban: identifikasi luka bakar, inhalasi asap, dan syok termal. Mahasiswa belajar langsung, sementara kami bantu selamatkan nyawa,” jelas Dr. Siti. Tim Poltekkes bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kapuas Hulu dan BPBD setempat, mendirikan posko medis sementara di halaman pasar yang aman. Mereka menangani 12 korban luka ringan, memberikan infus rehidrasi dan obat penghilang nyeri, serta memantau kondisi pedagang yang terpapar asap.
Kebakaran Pasar Merdeka Putussibau ini bukan yang pertama; pada 2023, kebakaran serupa merusak 10 kios. Kali ini, api berhasil dipadamkan dalam 2 jam berkat 3 unit mobil pemadam dari Putussibau dan Sintang. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 500 juta, tapi korban jiwa nol berkat evakuasi cepat. “Siaga tim kesehatan sangat krusial. Tanpa mereka, korban bisa bertambah karena syok atau infeksi sekunder,” kata Kepala BPBD Kapuas Hulu, Ir. H. Ahmad.Poltekkes Putussibau tidak berhenti pada respons akut. Pasca-kebakaran, tim melanjutkan pemantauan korban selama 72 jam untuk cegah komplikasi seperti pneumonia akibat asap. Dr. Siti menambahkan, “Ini momentum untuk tingkatkan simulasi bencana di kampus. Di perbatasan seperti Putussibau, kebakaran pasar sering terjadi karena instalasi listrik usang. Kami siap bantu pemerintah daerah bangun sistem kesehatan tangguh.”
Kesiapsiagaan Poltekkes Putussibau menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kalbar. Di tengah kebakaran yang mengguncang, tim kesehatan ini bukan hanya penyelamat, tapi juga pelopor pendidikan darurat. Dengan semangat pengabdian, Poltekkes Putussibau wujudkan Kapuas Hulu aman dari bencana—satu respons cepat demi satu nyawa diselamatkan.
