Poltekkes Pangandaran Kab Miris dengan Siswa SMP Terjangkit HIV

Poltekkes Pangandaran Kab Miris dengan Siswa SMP Terjangkit HIV

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, menjadi sorotan nasional setelah ditemukan sejumlah siswa SMP terindikasi terjangkit HIV/AIDS pada akhir November 2025. Temuan ini, yang diungkap oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pangandaran, menunjukkan bahwa dari 12 kasus HIV baru sepanjang tahun ini, beberapa di antaranya adalah pelajar usia 13–15 tahun. Penularan diduga melalui hubungan seksual tidak aman dan perilaku berisiko tinggi di kalangan remaja. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Pangandaran, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut situasi ini sebagai “darurat moral dan kesehatan” yang harus segera ditangani secara serius.


Direktur Poltekkes Pangandaran, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menegaskan bahwa temuan ini mencerminkan kegagalan sistem edukasi seks dan pencegahan HIV di tingkat sekolah. “Kami sangat miris. Anak SMP seharusnya belajar, bukan berjuang melawan HIV. Ini alarm bagi semua pihak: orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah harus bertindak cepat,” ujar Dr. Siti dikutip https://poltekkespangandarankab.org. Ia menyoroti bahwa usia SMP adalah masa kritis perkembangan, di mana kurangnya edukasi reproduksi dan pengaruh media sosial memperbesar risiko pergaulan bebas. “HIV pada remaja bukan akhir hidup, tapi bisa dicegah 100 persen dengan edukasi, akses kondom, dan tes dini. Yang terjadi di Pangandaran ini adalah kegagalan kolektif,” tambahnya.

Data Dinkes Pangandaran menunjukkan bahwa dari 12 kasus baru 2025, 4 di antaranya adalah pelajar SMP yang tertular melalui hubungan seksual tidak aman. Penularan terjadi karena minimnya pengetahuan tentang risiko, ditambah akses mudah ke tempat hiburan malam di kawasan pantai. Kepala Bidang P2P Dinkes Pangandaran, dr. Andi Rahman, menyatakan bahwa temuan ini didapat dari skrining rutin di puskesmas. “Kami temukan kasus pada remaja SMP setelah mereka datang dengan gejala seperti demam berkepanjangan dan penurunan berat badan. Setelah tes, positif HIV,” katanya. Ia menambahkan bahwa stigma masih tinggi, sehingga banyak kasus tersembunyi.

Poltekkes Pangandaran langsung merespons dengan program darurat “Pangandaran Remaja Sehat 2026”. Mulai Desember 2025, 150 mahasiswa Jurusan Promosi Kesehatan dan Keperawatan turun ke 20 SMP prioritas untuk sosialisasi pencegahan HIV/AIDS. Materi mencakup edukasi reproduksi, bahaya pergaulan bebas, penggunaan kondom, dan pentingnya tes VCT (Voluntary Counseling and Testing). “Kami ajak siswa pahami bahwa HIV bukan hukuman, tapi bisa dicegah. Mahasiswa kami juga latih guru BK jadi konselor pertama di sekolah,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan tes cepat gratis di kampus setiap Sabtu, menargetkan 1.000 remaja pada 2026.

Ke depan, Poltekkes rencanakan kolaborasi dengan Dinkes dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Pangandaran untuk kampanye anti-stigma dan integrasi modul kesehatan reproduksi ke kurikulum SMP. Dengan sorotan Poltekkes Pangandaran, kasus HIV pada siswa SMP bukan lagi rahasia gelap, tapi panggilan untuk aksi nyata—untuk Pangandaran bebas HIV dan generasi muda sehat.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita