Poltekkes Lebak Khawatir dengan 21 Penderita HIV/AIDS Meninggal Dunia

Poltekkes Lebak Khawatir dengan 21 Penderita HIV/AIDS Meninggal Dunia

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menghadapi krisis kesehatan yang memprihatinkan dengan dilaporkannya 21 kematian akibat HIV/AIDS dari total 808 kasus yang tercatat sejak 2019 hingga Oktober 2025. Angka ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Lebak, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, Poltekkes Lebak menyoroti bahwa kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh diagnosis terlambat dan kurangnya akses pengobatan antiretroviral (ARV), meskipun HIV/AIDS bisa dikendalikan jika terdeteksi dini. Direktur Poltekkes Lebak, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa kasus ini hanyalah "puncak gunung es", di mana banyak penderita tidak melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. “Kami sangat khawatir dengan 21 kematian ini, terutama karena mayoritas penderita berada di usia produktif. Ini bukan akhir dari virus, tapi kegagalan sistem kita dalam pencegahan dan pengobatan dini. Mahasiswa kami siap turun lapangan untuk edukasi dan skrining gratis, agar Lebak bebas stigma dan selamatkan lebih banyak nyawa,” ujar Dr. Siti.


Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak menunjukkan bahwa 21 kematian ini terjadi di tengah 808 kasus yang didiagnosis di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung. Paryono, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Balitbangda Lebak, menyatakan bahwa angka ini mencerminkan kurangnya kewaspadaan masyarakat terhadap perilaku berisiko tinggi. “Perlu kewaspadaan masyarakat terhadap penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan perilaku berisiko lainnya seperti berbagi jarum suntik, hubungan dengan banyak pasangan, transfusi darah terinfeksi, dan penularan melalui ASI dari ibu HIV positif,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkeslebak.org. Ia menambahkan bahwa orang tua harus memantau interaksi sosial anak-anak untuk cegah paparan. Dr. Firman Rahmatullah, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Lebak, mengonfirmasi peningkatan kasus tahunan, meskipun diagnosis terpusat di RSUD. “Kasus terus meningkat setiap tahun. Kami lakukan penyuluhan di sekolah dan masyarakat tentang pencegahan narkoba dan perilaku aman,” tegasnya.

Poltekkes Kemenkes Lebak merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “21 kematian ini alarm bagi kami. Di Lebak, dengan 1,2 juta penduduk dan mobilitas tinggi pelajar, kami soroti melalui sosialisasi di 15 kecamatan prioritas, ajak warga tes VCT (Voluntary Counseling and Testing) gratis dan pahami bahwa HIV bisa dikelola dengan ARV. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Masyarakat turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi pencegahan: gunakan kondom, hindari jarum suntik bersama, dan cegah pergaulan bebas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan konseling pra dan pasca-tes di kampus, bekerja sama dengan RSUD Adjidarmo untuk distribusi ARV.

Upaya pencegahan meliputi vaksinasi HPV untuk cegah HIV terkait kanker serviks dan skrining massal di pasar dan masjid. Dampak awal: kesadaran warga naik 35 persen sejak Mei 2025, dengan 500 tes VCT gratis yang dilakukan Poltekkes. Ke depan, Poltekkes rencanakan kampanye anti-stigma pada 2026, target 2.000 tes dini. Dengan sorotan Poltekkes Lebak, HIV/AIDS bukan lagi tabu, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, tes rutin, dan pengobatan gratis adalah senjata utama—untuk Lebak sehat dan generasi muda bebas stigma.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita