Kepala Dinkes Kutim, dr. Bahrani Hasanal, menyatakan bahwa bakti sosial ini adalah wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap masyarakat kurang mampu. “Operasi katarak gratis ini menargetkan warga yang sudah lama mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Alhamdulillah, 70 pasien berhasil dioperasi dan kini bisa melihat kembali dengan jelas,” ujar dr. Bahrani, seperti dikutip dari https://poltekkeskutaitimur.org. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya mengembalikan fungsi mata, tapi juga meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas penerima manfaat, terutama lansia dan pekerja informal di pedalaman Kutim.
Poltekkes Kemenkes Kutai Timur memainkan peran krusial sebagai penyelenggara teknis. Sebanyak 30 mahasiswa Jurusan Keperawatan dan 10 dosen spesialis mata dikerahkan untuk mendampingi tim dokter dari RSUD Kudungga dan mitra seperti Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Kaltim. Direktur Poltekkes Kutai Timur, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menjelaskan bahwa program ini bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mahasiswa kami belajar langsung teknik phacoemulsifikasi (operasi katarak modern) dan perawatan pasca-operasi. Ini kesempatan emas untuk mengabdi sekaligus tingkatkan kompetensi,” katanya. Tim Poltekkes juga melakukan skrining pra-operasi di 10 desa prioritas, memastikan pasien dalam kondisi prima sebelum tindakan.
Operasi dilakukan dengan metode phacoemulsifikasi yang minim sayatan, sehingga pemulihan hanya 1–2 hari. Setiap pasien mendapat lensa intraokuler gratis dan obat tetes mata selama sebulan. Seorang penerima manfaat, Bapak Rahman (68 tahun) dari Desa Kaubun, berbagi cerita haru: “Sudah lima tahun saya buta karena katarak. Biaya operasi di kota besar jutaan. Alhamdulillah, sekarang bisa lihat cucu lagi. Terima kasih Poltekkes dan Dinkes Kutim!”
Program ini didukung anggaran APBD Kutim dan CSR perusahaan tambang setempat. dr. Bahrani menambahkan bahwa Kutim menargetkan eliminasi katarak sebagai penyebab kebutaan pada 2027. “Kami akan jadikan bakti sosial ini agenda tahunan, dengan Poltekkes Kutai Timur sebagai mitra tetap,” katanya.
Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi kabupaten lain di Kaltim. Dengan 70 mata kembali terang, Poltekkes Kutai Timur membuktikan bahwa pendidikan vokasi kesehatan bisa langsung ubah hidup masyarakat. Bakti sosial operasi katarak bukan akhir, tapi awal dari Kutai Timur yang lebih terang—fisik dan masa depan.
