Kepala Dinkes Kutai Barat, dr. H. Rahman, M.Kes, menekankan pentingnya RDT sebagai inovasi utama. “Kami sediakan RDT untuk deteksi kasus DBD lebih cepat dan akurat. Alat ini memungkinkan diagnosis di tingkat puskesmas tanpa harus kirim sampel ke lab provinsi, sehingga pengobatan bisa segera diberikan dan isolasi pasien lebih efektif,” ujar dr. Rahman, seperti dikutip dari https://poltekkeskotasendawar.org. Ia menambahkan bahwa RDT NS1 dengue memiliki sensitivitas 90 persen untuk deteksi antigen virus dengue pada hari pertama gejala, yang sering kali terlewat dalam tes konvensional. Dengan 500 unit RDT didistribusikan ke 15 puskesmas di Kutai Barat, program ini menargetkan skrining 5.000 warga berisiko tinggi, terutama anak-anak dan lansia di kecamatan rawan seperti Sendawar dan Melak.
Poltekkes Kemenkes Sendawar memainkan peran krusial dalam inisiatif ini. Sebagai lembaga vokasi kesehatan, Poltekkes tidak hanya menyumbang tenaga ahli, tapi juga melibatkan 100 mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis dan Kesehatan Masyarakat dalam pelatihan penggunaan RDT. Direktur Poltekkes Sendawar, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa kolaborasi ini selaras dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mahasiswa kami turun langsung ke lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mendampingi skrining DBD di desa-desa. Kami juga kembangkan modul edukasi pencegahan, seperti 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida), agar warga aktif lawan nyamuk pembawa DBD,” jelas Dr. Siti.
Lonjakan kasus DBD di Kutai Barat dipicu oleh faktor musiman: genangan air pasca-hujan dan perubahan iklim yang mempercepat siklus hidup nyamuk. Data Dinkes mencatat 60 persen kasus terjadi pada anak usia 5–14 tahun, dengan gejala demam tinggi, nyeri sendi, dan perdarahan gusi yang bisa fatal jika terlambat ditangani. RDT menjadi solusi revolusioner karena murah (Rp 50.000 per tes) dan mudah digunakan, mengurangi waktu tunggu dari 3 hari menjadi kurang dari satu jam. “Dengan RDT, kami bisa identifikasi kasus positif sejak dini, berikan obat suportif, dan lakukan fogging fokus di radius 100 meter rumah pasien,” tambah dr. Rahman.
Poltekkes Sendawar memperkaya program ini dengan riset mahasiswa tentang efektivitas RDT di daerah tropis, yang akan dipublikasikan di jurnal nasional. Ke depan, Poltekkes rencanakan kolaborasi dengan Dinkes untuk kampanye DBD-free di 20 desa prioritas pada 2026, termasuk pelatihan 200 kader desa untuk gunakan RDT mandiri. “Deteksi dini adalah kunci basmi DBD. Poltekkes siap jadi mitra utama, dari lab hingga lapangan,” pungkas Dr. Siti Nurhaliza.
Dengan inisiatif Poltekkes Sendawar, Kutai Barat bukan lagi daerah rawan DBD, tapi model pencegahan nasional. Edukasi, tes cepat, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk masyarakat sehat dan bebas demam berdarah.
