Poltekkes Kebayoran Soroti Ribuan Kasus DBD: Dorong Pencegahan Dini di Tengah Lonjakan Penyakit

Poltekkes Kebayoran Soroti Ribuan Kasus DBD: Dorong Pencegahan Dini di Tengah Lonjakan Penyakit

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Kebayoran, Jakarta Selatan, menjadi salah satu wilayah dengan beban Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di DKI Jakarta, mencatat ribuan kasus sepanjang 2024 hingga awal November 2025. Data Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jaksel menunjukkan 2.146 warga terjangkit DBD, dengan 8 kematian: 6 pada 2024 dan 2 pada 2025. Lonjakan ini, yang didominasi oleh kelompok usia 20–44 tahun (270 kasus pada 2025), menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Kebayoran. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, Poltekkes Kebayoran mendesak peningkatan pencegahan dini melalui surveilans aktif dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), mengingatkan bahwa DBD bukan hanya musiman, tapi ancaman berkelanjutan akibat urbanisasi dan perubahan iklim.


Rismasari, Kepala Sudinkes Jaksel, menjelaskan bahwa kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Cempaka Putih (223 kasus), Johar Baru (182 kasus), dan Kemayoran (128 kasus) pada 2025. "Jumlah keseluruhan ada 2.146 warga Jakarta Selatan sakit DBD. Dari jumlah tersebut terdapat 8 warga meninggal periode tahun 2024 warga yang meninggal berjumlah 6 orang dan 2 orang pada tahun 2025 berdasarkan data hingga 10 November 2025," ujar Rismasari, seperti dikutip dari https://poltekkeskebayoran.org pada 17 November 2025. Dua kematian tahun ini terjadi di Kecamatan Tanah Abang dan Cempaka Putih, dengan mayoritas korban adalah pekerja dan anak sekolah yang rentan karena paparan genangan air pasca-hujan. Penyebab utama adalah gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang berkembang biak di lingkungan urban padat. Rismasari menyoroti kurangnya partisipasi kawasan perkantoran dalam PSN, yang memperburuk situasi. "Mungkin bisa nanti dibuat jadwal secara rutin di perkantoran untuk paling tidak di lingkungan kantor Pemkot Jaksel."

Poltekkes Kemenkes Kebayoran, dengan basis di kawasan urban yang rawan DBD, merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Direktur Poltekkes Kebayoran, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi surveilans. “Ribuan kasus ini alarm bagi kami. Di Kebayoran, dengan 1,5 juta penduduk dan drainase buruk, DBD bisa jadi KLB jika tidak ditangani dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida) di 20 RW prioritas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat DBD di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Upaya pencegahan meliputi fogging massal, seperti di Kawasan Radio Dalam, Kebayoran Baru, pada 13 Februari 2026, dan program “Jumantik Cilik” di sekolah untuk libatkan anak-anak sebagai agen PSN. Rismasari optimis, “Dengan jadwal rutin di perkantoran dan sekolah, kami tekan penyebaran.” Dampak awal: kasus DBD turun 15 persen di RW sasaran sejak November 2025, berkat partisipasi masyarakat.

Dengan sorotan Poltekkes Kebayoran, DBD bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Kebayoran sehat dan bebas dengue.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita