Pelatihan digelar di ruang rapat Dinkes Karawang, melibatkan instansi lintas sektor seperti Bappeda, Kesra, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) di 30 kecamatan, serta organisasi masyarakat seperti TP PKK dan Gerakan Ortini Wanita (GOW). Selain itu, dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), akademisi, dan media lokal turut berpartisipasi dalam bimbingan teknis. Nurmala Hasanah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Karawang, menekankan bahwa anemia remaja putri menjadi pintu masuk stunting bayi di masa depan. “Remaja harus sarapan, harus aktif bergerak, minum tablet tambah darah (TTD), dan tidak merokok. Itu empat kunci yang terus kami kampanyekan,” ujar Nurmala Hasanah, seperti dikutip dari https://poltekkeskarawangkab.org. Ia menambahkan, “Semua bergerak bersama. Kita ingin remaja bebas anemia, sehingga kelak menjadi calon ibu yang sehat dan mencegah risiko melahirkan bayi stunting.”
Politeknik Kesehatan Kemenkes Karawang memainkan peran strategis dalam mendukung kampanye ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya menyediakan tenaga ahli, tapi juga melibatkan 50 mahasiswa Jurusan Gizi dan Promosi Kesehatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mendampingi pelatihan kader. Direktur Poltekkes Karawang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Dinkes. “Kampanye anti-anemia ini krusial untuk tekan stunting yang mencapai 25 persen di Karawang. Mahasiswa kami edukasi kader tentang manfaat TTD seminggu sekali dan aktivitas fisik 30 menit sehari, sekaligus demo menu sarapan bergizi murah seperti bubur kacang hijau dengan telur. Ini selaras dengan Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan laboratorium portabel untuk uji hemoglobin gratis, mendeteksi 100 kasus anemia ringan sejak September 2025 untuk rujukan cepat ke puskesmas.
Kampanye Gres Kece difokuskan pada remaja putri sebagai prioritas, karena anemia mereka berisiko tinggi saat hamil nanti. Pelatihan mencakup bimbingan teknis lintas sektor untuk implementasi model sekolah Balatangkas (praktik baik pencegahan anemia), yang telah direplikasi ke ratusan sekolah setelah tiga sekolah dengan angka anemia tertinggi menunjukkan perkembangan signifikan. Nurmala Hasanah optimis, “Dengan 200 kader terlatih, edukasi akan meresap ke 200 sekolah, tekan anemia remaja hingga 20 persen pada 2026.” Kolaborasi pentahelix—pemerintah, masyarakat, usaha, akademisi, dan media—menjadi kekuatan utama, memastikan program ini berkelanjutan.
Dampak awal terasa: survei internal Dinkes menunjukkan kepatuhan TTD naik 40 persen di sekolah sasaran sejak November 2025. Di Karawang, dengan populasi remaja 30 persen dan industri manufaktur yang padat, kampanye ini krusial untuk cegah anemia kerja. Poltekkes Karawang rencanakan workshop bulanan untuk 300 kader pada 2026, terintegrasi dengan aplikasi monitoring gizi digital.
Dengan kampanye anti-anemia ini, Karawang bukan lagi daerah rawan stunting, tapi teladan pencegahan—untuk remaja sehat, cerdas, dan keren yang siap jadi generasi emas.
