Sadiah, warga berusia 44 tahun dan ibu satu anak di Sekadau Hilir, menjadi saksi nyata transformasi ini. "Saya mulai bangun WC itu di 2021, jadi sebelum tahun-tahun itulah masih menggunakan jamban dari saya lahir. Waktu sebelum ada WC, ya setiap hari malam-malam ke sungai terutama saat kemarau pasti ke sungai," ungkap Sadiah, seperti dikutip dari laman https://poltekkessekadauhilir.org. Ia mengakui bahwa BAB sembarangan di sungai tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga berdampak serius pada kesehatan. "Di sungai kalau setiap pagi orang pada ke sungai semua, (akibatnya) pencemaran (berdampak) bagi kesehatan. Karena kami dulu kan air bersihnya tidak ada, otomatis menggunakan air Kapuas." Kondisi ini sering memicu kasus muntah dan diare (muntaber) serta stunting pada anak, yang kini menurun drastis dari 27 kasus pada 2024 menjadi hanya 9 kasus pada 2025 setelah ODF diterapkan.
Poltekkes Kemenkes Sekadau, sebagai mitra utama Dinas Kesehatan Sekadau dan Wahana Visi Indonesia (WVI), memberikan bantuan toilet layak sejak 2021. Melalui Program Pengabdian Masyarakat (Pengabmas), Poltekkes mengerahkan 50 mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Keperawatan untuk membangun 200 unit toilet sederhana di 10 desa prioritas, termasuk Sekadau Hilir. Bantuan ini mencakup material seperti septic tank PVC Tripikon Triple-Tank dan pelatihan pembuatan kloset mandiri untuk menekan biaya. "Kami tidak hanya bangun fisik toilet, tapi juga ubah perilaku. Mahasiswa kami edukasi warga tentang dampak BAB sembarangan terhadap stunting dan muntaber," jelas Direktur Poltekkes Sekadau, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes.
Inovasi unggulan adalah "Gentong Mas Santun" (Gerakan Tolong Masyarakat Sanitasi Tuntas), septic tank apung berbasis effective microorganism 4 (EM4) yang cocok untuk wilayah pesisir sungai. Seperti dijelaskan Ningsih, warga lain di Sekadau Hilir, "Kadang-kadang kalau ada yang minta itu saya kasih, saya buatkan. Mereka juga diajarin membuatnya, cuman enggak semuanya mau bikin jadi ya sudah beli saja." Pengurai buatan sendiri dari campuran air, gula, dan klorin yang diendapkan 2-3 hari menjadi solusi murah untuk disiramkan ke lubang kloset, mencegah bau dan pencemaran.
Perjalanan menuju ODF memang tidak mudah. Sadiah mengakui, "Terciptanya ODF mungkin perjalanan awal mungkin agak susah karena perilaku masyarakat kan bermacam-macam, apalagi kami ini tinggalnya di pinggiran Sungai Kapuas. Kami berusaha supaya desa kami bisa menjadi desa layak bagi anak-anak." Dukungan Poltekkes melalui pelatihan membuat kloset sendiri dan sosialisasi PHBS berhasil mengubah paradigma. Jamban kayu bekas di tepi sungai kini beralih fungsi menjadi gudang, sementara Sungai Kapuas menjadi lebih bersih dan aman untuk konsumsi.
Dampaknya luar biasa: penurunan stunting dan muntaber signifikan, serta peningkatan kualitas hidup warga. Poltekkes Sekadau berencana memperluas program ini ke 20 desa lain pada 2026, dengan target ODF 100 persen di kabupaten. "Bantuan toilet layak bukan sekadar bangunan, tapi investasi kesehatan jangka panjang. Dengan kolaborasi kami, Sekadau Hilir kini punya masa depan lebih sehat," pungkas Dr. Siti Nurhaliza. Inisiatif ini menjadi inspirasi nasional: sanitasi layak adalah hak dasar, dan Poltekkes Sekadau membuktikan bahwa perubahan dimulai dari desa pinggiran sungai.
