Poltekkes Kota Tanjung Redeb Soroti Lonjakan Kasus HIV: Dorong Edukasi dan Pengujian Dini

Poltekkes Kota Tanjung Redeb Soroti Lonjakan Kasus HIV: Dorong Edukasi dan Pengujian Dini

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan atas peningkatan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang tercatat sepanjang 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau melaporkan 66 kasus baru, naik tipis dari 64 kasus pada tahun sebelumnya, dengan Kecamatan Tanjung Redeb sebagai wilayah dengan angka tertinggi. Meskipun diagnosis terpusat di RSUD dr. Abdul Rivai, banyak pasien berasal dari berbagai kecamatan, menunjukkan pola penularan yang luas. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Tanjung Redeb, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, segera menyoroti isu tersebut melalui program edukasi dan pengabdian masyarakat, menekankan bahwa peningkatan kasus ini justru mencerminkan kesadaran dan deteksi dini yang lebih baik, bukan kondisi memburuk.


Andy Nuriyanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Berau, menjelaskan bahwa peningkatan kasus tidak selalu berarti epidemi baru, melainkan hasil dari pengujian sukarela yang lebih masif. “Pengujian HIV bersifat sukarela untuk masyarakat umum, tapi wajib setiap 3-6 bulan bagi kelompok berisiko tinggi seperti pekerja hiburan malam (THM). Peningkatan ini menunjukkan orang lebih sadar dan berani tes dini,” ujar Andy Nuriyanto, seperti dikutip dari https://poltekkeskotatanjungredeb.org. Ia menambahkan bahwa HIV tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikelola dengan terapi antiretroviral (ARV) yang menekan virus hingga tak terdeteksi, memungkinkan penderita hidup sehat normal. Namun, keberhasilan tergantung dukungan sosial, karena stigma sering merusak moral pasien. “Pendidikan lebih penting daripada laporan yang menstigmatisasi. Kita harus bangun empati, bukan ketakutan,” tegasnya.

Poltekkes Kemenkes Tanjung Redeb merespons cepat dengan meluncurkan kampanye “Berau Bebas Stigma HIV” pada 10 Desember 2025, diikuti 200 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL). Direktur Poltekkes Tanjung Redeb, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti bahwa lonjakan kasus di Tanjung Redeb—sebagai pusat ekonomi Berau—dipicu mobilitas tinggi pekerja migran dan kurangnya edukasi pencegahan. “Kami soroti isu ini melalui sosialisasi di pasar malam dan posyandu, ajak warga tes VCT gratis dan pahami bahwa HIV bukan akhir hidup. Mahasiswa kami edukasi cara penularan—hubungan seksual tidak aman dan jarum suntik—serta pencegahan seperti kondom dan ARV PrEP,” jelas Dr. Siti. Kampanye ini juga libatkan kelompok berisiko seperti THM, dengan target 1.000 tes dini pada 2026.

Kolaborasi Poltekkes dengan Dinkes Berau mencakup pelatihan 50 kader desa untuk konseling stigma, serta riset mahasiswa tentang faktor sosial di Tanjung Redeb. Data Dinkes menunjukkan 70 persen kasus di usia 20-40 tahun, mayoritas laki-laki, dengan penularan utama melalui seks tidak aman. “ARV gratis via JKN sudah tersedia, tapi stigma hambat kepatuhan. Kami dorong masyarakat pahami bahwa orang dengan HIV (ODHIV) bisa hidup normal jika terapi tepat waktu,” tambah Andy Nuriyanto.

Upaya Poltekkes Tanjung Redeb ini menjadi model pencegahan nasional. Di Berau, di mana pariwisata dan migrasi tinggi, sorotan HIV bukan alarm panik, tapi panggilan aksi. Dengan edukasi dan dukungan, Tanjung Redeb bisa jadi zona bebas stigma—untuk masyarakat sehat dan produktif.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita