Pengabmas ini dipimpin oleh Dr. Syamsuddin S, SKM., M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Makassar. Tim dibagi menjadi dua kelompok: kelompok pertama terdiri dari Dr. Syamsuddin S, Haerani (SKM., MKM), dan Rostina (S.ST., M.Kes), yang membahas penyakit akibat air limbah rumah tangga; sementara kelompok kedua melibatkan Zaenab (SKM., M.Kes), Khiki Purnawati Kasim (S.ST., M.Kes), Ain Khaer (S.ST., M.Kes), dan Erwinda Alwi Rachman (SKM., M.KKK), fokus pada sanitasi makanan dan pencegahan infeksi Salmonella sp. Hadir pula Lurah Banta-Bantaeng Adi Mulyadi Jacub, Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan, serta masyarakat setempat yang antusias mengikuti sesi interaktif. Lokasi Kelurahan Banta-Bantaeng dipilih karena rawan masalah lingkungan akibat kepadatan penduduk dan pengelolaan sampah yang kurang optimal.
Tujuan utama kegiatan ini adalah memberdayakan masyarakat dengan pengetahuan praktis untuk meningkatkan kualitas hidup, khususnya dalam aspek kesehatan lingkungan. Dr. Syamsuddin S menekankan kolaborasi sebagai kunci sukses. “Kolaborasi ini diharapkan mampu memberi dampak positif dalam meningkatkan kualitas hidup warga, khususnya dalam aspek kesehatan lingkungan,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkesmakassar.org. Sesi pertama membahas penyakit akibat air limbah rumah tangga, seperti diare dan infeksi kulit, yang sering muncul karena pencemaran saluran air domestik. Kelompok kedua menyoroti sanitasi makanan, dengan penekanan pencegahan infeksi Salmonella sp., penyebab demam tifoid, melalui kebersihan pengolahan dan penyajian. Peserta diajari teknik mencuci tangan dengan sabun, sterilisasi peralatan dapur, dan pengelolaan limbah organik untuk kurangi risiko kontaminasi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pengabmas Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Makassar, yang bertujuan mengimplementasikan ilmu pengetahuan untuk solusi masalah masyarakat. Mahasiswa terlibat penuh melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), di mana mereka tidak hanya fasilitator, tapi juga pembelajar dari dinamika lapangan. Lurah Adi Mulyadi Jacub menyambut baik inisiatif ini. “Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan warga Banta-Bantaeng, yang sering hadapi masalah limbah rumah tangga. Dengan pengetahuan ini, kami bisa lebih mandiri jaga kesehatan lingkungan,” katanya. Ketua PKK Kelurahan juga menambahkan, “Materi sanitasi makanan sangat relevan untuk keluarga kami, terutama pencegahan Salmonella yang bisa sebabkan demam tifoid pada anak.”
Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar, sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, membuktikan peran strategisnya dalam pengabdian masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan, Poltekkes tidak hanya mencetak tenaga ahli, tapi juga terlibat langsung dalam program seperti ini melalui PKL. Direktur Poltekkes Makassar, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa kegiatan ini selaras dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Pengabmas ini bagian dari pengabdian kami. Di Makassar, di mana urbanisasi cepat sering picu masalah sanitasi, kami pastikan mahasiswa terapkan ilmu untuk solusi nyata. Dampaknya, kesadaran warga naik 40 persen sejak hari pertama, dengan komitmen terapkan higiene dapur,” jelas Dr. Siti. Mahasiswa Poltekkes juga lakukan survei cepat pasca-kegiatan, menunjukkan 85 persen peserta siap replikasi pengetahuan di rumah tangga.
Dampak kegiatan ini langsung terasa: kesadaran masyarakat naik 40 persen sejak hari pertama, dengan komitmen terapkan higiene dapur. Ke depan, Poltekkes Makassar rencanakan workshop bulanan untuk 200 warga Rappocini, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Di Banta-Bantaeng, di mana kepadatan penduduk tinggi, edukasi sanitasi bukan lagi teori, tapi aksi nyata—untuk Makassar sehat dan lestari.
