Poltekkes Jakarta Selatan Soroti Kasus Campak: Dorong Vaksinasi Booster dan Surveilans Cepat untuk Cegah Wabah

Poltekkes Jakarta Selatan Soroti Kasus Campak: Dorong Vaksinasi Booster dan Surveilans Cepat untuk Cegah Wabah

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jakarta Selatan semakin aktif menyoroti ancaman penyakit campak dan rubella di tengah tren kenaikan kasus yang mengkhawatirkan. Hingga 19 September 2025, Suku Dinas Kesehatan (SUDIN) Jakarta Selatan mencatat 9 kasus positif campak dan 12 kasus positif rubella di 10 kecamatan, berdasarkan data surveilans dari fasilitas kesehatan. Angka suspek campak tahun ini lebih tinggi dibandingkan 2024, menunjukkan perlunya respons cepat untuk mencegah penyebaran lebih luas. Poltekkes Jakarta Selatan, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, mendukung upaya pencegahan melalui pelatihan mahasiswa dan edukasi masyarakat, menekankan vaksinasi booster dan surveilans aktif sebagai kunci utama.


Kepala SUDIN Kesehatan Jakarta Selatan, Yudi Dimyati, menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara cepat untuk isolasi dan pengobatan. "Penanganan yang baik dan harapan kami, kasus dari virus yang mudah menular ini bisa terus menurun trennya atau tidak ada penyebaran yang signifikan di suatu wilayah," ujar Yudi Dimyati, seperti dikutip dari https://poltekkesjakartaselatan.id. Penyebaran kasus campak tercatat masing-masing satu kasus di Kecamatan Kebayoran Baru, Pasar Minggu, dan Setiabudi, serta dua kasus di Kebayoran Lama, Pesanggrahan, dan Tebet. Sementara rubella tertinggi di Mampang Prapatan dengan tiga kasus, tanpa temuan campak di wilayah tersebut. Faktor pemicu utama adalah perubahan cuaca yang lembab dan rendahnya cakupan vaksinasi dasar, yang memudahkan virus measles dan rubella menyerang anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.

Poltekkes Kemenkes Jakarta Selatan merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mencetak tenaga ahli, tapi juga terlibat langsung dalam surveilans melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa. Direktur Poltekkes Jakarta Selatan, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi vaksinasi booster. "Kami soroti 21 kasus positif ini melalui sosialisasi di 10 kecamatan prioritas, ajak orang tua vaksin ulang anak usia 18 bulan dan 5 tahun. Mahasiswa kami dari Jurusan Kebidanan dan Kesehatan Masyarakat turun lapangan untuk edukasi gejala seperti demam tinggi, ruam, dan batuk, serta penerapan Outbreak Response Immunization (ORI)," jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan tes cepat rubella dan campak di kampus, bekerja sama dengan SUDIN Kesehatan untuk survei cepat komunitas (SCK).

Upaya pencegahan meliputi pelaksanaan ORI, edukasi penanganan, dan pengobatan hingga sembuh, termasuk vaksinasi campak sebagai dosis booster. Di Jakarta Selatan, dengan populasi padat dan mobilitas tinggi, surveilans aktif krusial untuk deteksi dini. Dampak awal: cakupan vaksinasi naik 15 persen sejak kampanye dimulai, dan tidak ada klaster baru terdeteksi. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 200 kader posyandu pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Dengan sorotan Poltekkes Jakarta Selatan, campak bukan lagi ancaman tak terkendali, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, vaksinasi, dan surveilans adalah senjata utama—untuk Jakarta Selatan sehat dan bebas wabah.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita