Pj Bupati Kubu Raya, Drs. H. Muda Mahendrawan, SH, M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga ancaman terhadap kualitas generasi penerus. “Kita harus pastikan anak-anak Kubu Raya lahir dan tumbuh dengan gizi optimal. Aksi Bergizi dan GESTUR adalah langkah konkret untuk mencapai target prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2027,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi https://poltekkeskuburayakab.org.
Aksi Bergizi difokuskan pada remaja putri dan calon pengantin dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin, edukasi pola makan bergizi berbasis pangan lokal, serta pemeriksaan anemia gratis. Sementara Program GESTUR melibatkan suami sebagai agen perubahan utama di keluarga: suami dilatih untuk mendampingi istri hamil dalam konsumsi gizi seimbang, kontrol kehamilan rutin, dan pencegahan anemia.
Poltekkes Kemenkes Kubu Raya langsung mengambil peran sentral. Direktur Poltekkes Kubu Raya, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa seluruh mahasiswa Jurusan Gizi, Kebidanan, dan Kesehatan Masyarakat akan diterjunkan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) terpadu. “Kami menyiapkan 300 mahasiswa untuk mendampingi 150 posyandu di 9 kecamatan. Mereka akan melakukan screening anemia, edukasi gizi, dan pendampingan suami dalam program GESTUR,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga menyediakan tim ahli untuk pelatihan kader posyandu, penyuluhan di sekolah-sekolah, serta pemeriksaan laboratorium gratis bagi calon pengantin dan ibu hamil.
Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, dr. Sri Apriani, menambahkan bahwa prevalensi stunting di Kubu Raya masih di angka 18,7 persen pada 2024. “Dengan Aksi Bergizi dan GESTUR yang didukung penuh Poltekkes, kami optimis bisa turun drastis. Poltekkes bukan hanya mitra, tapi motor penggerak utama di lapangan,” katanya.
Dalam waktu dekat, Poltekkes Kubu Raya akan meluncurkan Posko Gizi Terpadu di setiap kecamatan yang menjadi pusat distribusi TTD, edukasi, dan pendampingan suami. Mahasiswa juga akan mengembangkan aplikasi “Kubu Raya Bebas Stunting” untuk memantau perkembangan gizi ibu hamil dan balita secara real-time. “Keterlibatan suami dalam GESTUR adalah terobosan. Kami latih mereka jadi ‘bidan keluarga’ yang peduli gizi istri dan anak,” tambah Dr. Siti Nurhaliza.
Dengan pencanangan ini, Kubu Raya menegaskan komitmennya menjadi kabupaten pertama di Kalbar yang zero stunting pada 2027. Poltekkes Kemenkes Kubu Raya, melalui gerakan Aksi Bergizi dan GESTUR, tidak hanya mencetak tenaga kesehatan, tapi juga menjadi garda terdepan dalam membangun generasi emas yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. Langkah ini menjadi inspirasi bagi daerah lain: pencegahan stunting dimulai dari remaja, dikuatkan oleh keluarga, dan didukung penuh oleh tenaga kesehatan profesional.
