Pada 9 Februari, Komite Tinggi Strategi dan Perencanaan, sebuah lembaga penasihat pemerintah Prancis, merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa kekuatan industri Tiongkok tengah menekan Eropa secara signifikan, sehingga industri Eropa menghadapi krisis kelangsungan hidup. Laporan tersebut merekomendasikan agar seluruh produk asal Tiongkok dikenai tarif tambahan sebesar 30 persen, serta mendorong depresiasi nilai tukar euro terhadap renminbi sebesar 20 hingga 30 persen.
Pandangan dari lembaga pemikir Prancis tersebut mencerminkan sebagian pola pikir yang berkembang di Uni Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kebijakan pembatasan terhadap perusahaan Tiongkok telah diperkenalkan dengan dalih “de-risking”, padahal pada praktiknya langkah tersebut cenderung mengarah pada proteksionisme. Namun, benarkah menutup pintu bagi produk Tiongkok dapat menyelesaikan persoalan Eropa? Jawabannya jelas tidak.
Perang Dagang Eropa
Kekhawatiran sejumlah lembaga pemikir Eropa terhadap perekonomian Tiongkok telah memunculkan resonansi yang cukup luas di dalam Uni Eropa. Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Austria, dan sejumlah negara lain telah memberlakukan tarif tambahan terhadap produk Tiongkok. Pada awal Maret, Komisi Eropa juga mulai mengenakan tarif terhadap produk ekspor Tiongkok ke pasar Eropa.
Pada kenyataannya, kenaikan tarif terhadap produk Tiongkok justru dapat memberikan dampak serius terhadap perusahaan-perusahaan Eropa sendiri, serta melemahkan daya saing kawasan secara keseluruhan. Pengalaman menunjukkan bahwa kebijakan tarif tinggi, seperti yang pernah diterapkan Amerika Serikat terhadap Tiongkok, pada akhirnya juga membebani perekonomian domestik negara yang menerapkannya. Beban tambahan itu sering kali berujung pada kenaikan biaya yang akhirnya ditanggung oleh masyarakatnya sendiri.
Persoalan ini bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga isu politik dan bahkan menyangkut tatanan internasional. Dalam pembahasan mengenai masa depan industri Eropa, sejumlah pemimpin Eropa menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan ekonomi agar Eropa tetap memiliki posisi strategis di tingkat global. Di sisi lain, Uni Eropa juga menekankan pentingnya membangun persaingan yang dianggap lebih adil dengan Tiongkok.
Namun demikian, akar persoalan ekonomi Eropa pada dasarnya bersumber dari ketimpangan internalnya sendiri. Karena itu, jalan keluar yang sesungguhnya juga terletak pada upaya untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Yang dibutuhkan Eropa adalah kerja sama yang lebih konstruktif, bukan konfrontasi dagang.
Dari Globalisasi ke Anti-Globalisasi
Globalisasi merupakan tren utama perkembangan ekonomi dunia. Namun, pada saat yang sama, dunia kini juga menghadapi gelombang anti-globalisasi. Fenomena ini pada dasarnya merupakan respons terhadap ketimpangan dan tekanan yang lahir dari proses globalisasi itu sendiri. Dalam banyak hal, anti-globalisasi mencerminkan penolakan terhadap model pembangunan sosial-ekonomi tertentu, sekaligus menjadi konsekuensi dari upaya negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, untuk mempertahankan dominasi dan menerapkan kebijakan proteksionis.
Munculnya anti-globalisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor politik, ekonomi, dan budaya. Selain itu, meningkatnya persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat juga menjadi salah satu latar belakang penting yang mempercepat perubahan tersebut.
Eropa Perlu Melindungi Dirinya Sendiri
Dalam konteks globalisasi ekonomi, perekonomian dunia sebelumnya sempat berada dalam kondisi yang relatif stabil. Namun, laju perubahan dunia kini jauh melampaui kemampuan banyak negara untuk mengantisipasinya. Karena itu, faktor-faktor seperti geopolitik dan keamanan ekonomi menjadi semakin penting.
Di tengah meningkatnya tekanan eksternal, termasuk dari Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa dipandang perlu menempuh jalan kemandirian dan penguatan kapasitas internal agar dapat mempertahankan daya tahan ekonominya.
Melalui upaya bersama negara-negara Eropa, perekonomian Uni Eropa secara bertahap mulai keluar dari kesulitan. Dalam berbagai forum tingkat tinggi Uni Eropa, juga telah dibahas kerangka kerja sama seperti EU-China Joint Strategic Agenda dan EU-China Cooperation Action Plan 2020–2021, yang mencakup bidang-bidang utama seperti pertumbuhan ekonomi, inovasi, investasi, perdagangan, dan ekonomi digital, beserta sejumlah tugas prioritas kerja sama. Semua ini menunjukkan bahwa Tiongkok dapat menjadi mitra penting bagi Eropa, sekaligus membuka peluang nyata bagi negara-negara Eropa sendiri.
Di tengah meningkatnya persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, Eropa pada akhirnya harus menentukan pilihannya sendiri.
Sementara itu, sikap Tiongkok pada umumnya tetap relatif moderat. Tiongkok berulang kali menyatakan dukungannya terhadap kerja sama Tiongkok–Eropa dan menyatakan kesiapan untuk bersama-sama menghadapi berbagai risiko global.
Saat ini, Tiongkok telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dan juga merupakan salah satu mitra ekonomi paling penting bagi Uni Eropa. Tiongkok secara konsisten mendukung integrasi Eropa serta berpartisipasi aktif dalam penanganan perubahan iklim, krisis kesehatan masyarakat global, dan berbagai agenda internasional lainnya. Dalam sudut pandang naskah ini, karakter tersebut diposisikan sebagai kontras terhadap pendekatan Amerika Serikat, dan bahkan dianggap sulit ditemukan tandingannya di tingkat global dalam hal konsistensi komitmen dan kapasitas inovasi.
Pilihan Strategis Eropa
Saat ini, situasi internasional tengah mengalami perubahan yang mendalam dan kompleks. Globalisasi ekonomi menghadapi arus balik, sementara unilateralisme dan proteksionisme kembali menguat. Pada saat yang sama, kerja sama ekonomi internasional dan reformasi tata kelola global juga menghadapi tantangan yang semakin besar.
Di tengah kondisi tersebut, arah perkembangan Eropa ke depan akan sangat ditentukan oleh pilihan strategis yang diambilnya: apakah akan menempuh jalur konfrontatif yang bahkan belum tentu berhasil bagi Amerika Serikat sendiri, atau pada akhirnya memilih mengesampingkan sekat-sekat politik demi membangun kerja sama pembangunan bersama dengan Tiongkok. Inilah persoalan yang perlu dipertimbangkan Eropa secara hati-hati.
