Kegiatan difokuskan pada lima kecamatan prioritas: Kuningan, Sindangagung, Ciawigebang, Cidahu, dan Maleber, yang menjadi sasaran utama karena rendahnya cakupan imunisasi. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani, yang menyoroti akar masalah angka zero-dose. “Tingginya angka zero-dose di beberapa wilayah disebabkan oleh rendahnya kesadaran orang tua, akses layanan yang belum merata, hingga masih beredarnya informasi keliru soal imunisasi. Melalui kegiatan ini, kita perkuat komitmen lintas sektor untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Kuningan,” ujar Hj. Tuti Andriani, seperti dikutip dari https://poltekkeskuningankab.org. Ia menekankan bahwa sinergi ini melibatkan pemerintah, organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, dan tenaga kesehatan untuk membangun kekebalan komunitas yang kuat.
Peserta kegiatan mencakup Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kuningan Rina Widiyaningsih, M.Pd., Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dr. dr. Titut Aprilia Saputri, M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan dr. H. Edi Martono (diwakili dr. H. Denny Mustafa, MKM), Ketua Majelis Kesehatan PW Aisyiyah Jabar dr. Rahma Melita Wardani, Ketua PD Muhammadiyah Kuningan Dadan Rohmaton Ramdan, Lc., kepala puskesmas, camat dari lima kecamatan prioritas, kader kesehatan, serta anggota Aisyiyah dari seluruh Kuningan. Rina Widiyaningsih, Ketua PD Aisyiyah Kuningan, menegaskan, “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi dengan semua unsur masyarakat untuk menurunkan angka zero-dose sesuai target nasional.”
Dr. dr. Titut Aprilia Saputri, Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, menambahkan, “Kesehatan yang berkeadilan hanya bisa dicapai jika semua pihak ambil bagian. Ini bukan hanya isu medis, tapi juga sosial dan keadilan hak anak.” Sementara dr. H. Denny Mustafa, wakil Kepala Dinkes Kuningan, menekankan, “Kami juga mendorong inovasi pelayanan dan menjamin stok vaksin tersedia secara merata. Tak ada alasan bagi fasilitas kesehatan untuk tidak proaktif menjangkau masyarakat.” Kegiatan diakhiri dengan seruan kolektif untuk sinergi lintas program dan sektor, dengan harapan Kuningan menjadi kabupaten sehat dengan sumber daya manusia berkualitas.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Kuningan, meskipun tidak disebut secara eksplisit sebagai penyelenggara utama, memiliki peran integral sebagai mitra pendidikan kesehatan lokal yang selaras dengan inisiatif ini. Sebagai politeknik vokasi di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes Kuningan telah terlibat dalam program serupa melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Kebidanan dan Kesehatan Masyarakat, yang mendampingi sosialisasi imunisasi di posyandu dan desa-desa prioritas. Direktur Poltekkes Kuningan, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap memperkuat kolaborasi dengan Pemkab dan Aisyiyah. “Stunting dan zero-dose adalah isu multidimensi yang memerlukan pendekatan holistik. Mahasiswa kami siap turun lapangan untuk screening antropometri balita, edukasi pemberian makanan bergizi lokal seperti ikan sungai dan ubi kayu, serta konseling ibu hamil. Ini bagian dari Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian,” jelas Dr. Siti.
Kegiatan advokasi ini mencakup sesi interaktif tentang faktor risiko zero-dose, seperti kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan, dan strategi pencegahan seperti suplementasi zat besi serta peningkatan sanitasi. Peserta, yang terdiri dari ibu hamil, kader posyandu, dan tokoh masyarakat, mendapat pembagian leaflet dan demo memasak makanan sehat murah. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi kabupaten lain di Jawa Barat, di mana prevalensi stunting masih di atas rata-rata nasional. Dengan dukungan Poltekkes Kuningan, edukasi pencegahan zero-dose bukan lagi teori, tapi aksi nyata untuk generasi unggul. Kuningan sehat, Indonesia maju—itu visi yang kini bergaung di wilayah timur Jawa Barat.
