Kolaborasi ini mencerminkan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Seperti di Pontianak, di mana 14 mahasiswa Poltekkes Kemenkes Pontianak terlibat dalam praktikum, Poltekkes Kayong Utara juga memanfaatkan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa untuk mendukung Puskesmas setempat. Di Kayong Utara, tim Poltekkes turun ke Posyandu desa-desa terpencil, memberikan vaksin oral polio (OPV) dan vaksin IPV (injeksi) bagi anak yang rentan. "Keterlibatan mahasiswa sekaligus dalam rangka pemenuhan target kompetensi keperawatan kesehatan komunitas. Selain membantu kegiatan pelaksanaan pemberian imunisasi polio tersebut, mahasiswa juga memberikan sosialisasi dan pendidikan kesehatan pentingnya imunisasi polio kepada masyarakat," ujar Ns. Halina Rahayu, Ketua Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Pontianak, dikutip https://poltekkeskayongutara.org.
Polio, penyakit yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada anak, hampir hilang di Indonesia berkat program imunisasi rutin. Namun, di daerah seperti Kayong Utara dengan akses terbatas, cakupan masih menjadi tantangan. Kegiatan di Pontianak, yang melibatkan Lurah, Camat, dan keluarga melalui Posyandu, berhasil menciptakan antusiasme dengan rangkaian pembukaan menarik dan hadiah untuk anak-anak. "Dengan dilaksanakannya PIN dan dirangkai dengan pembukaan menarik, membuat pihak orang tua dan murid juga antusias mengikuti kegiatan PIN ini. Apalagi ada hadiah untuk anak-anak yang sudah imunisasi, menambah semangat anak-anak untuk ikut imunisasi," kata Kriss Diana, Kepala TK Daarul Jannah. Pendekatan serupa diterapkan di Kayong Utara, di mana Poltekkes mengintegrasikan edukasi dengan permainan anak untuk mengurangi ketakutan vaksinasi.
Eko Budi Santoso, Kepala Puskesmas Tanjung Hulu, menyatakan, "Kebetulan juga sumber daya manusia kita di Puskesmas terbatas, kita berdayakanlah mereka dan tentunya kehadiran mereka sangat membantu menyelenggarakan kegiatan ini. Untuk itu, kami berharap, kemitraan ini terus terjalin, bersama-sama menyukseskan program kesehatan yang digulirkan." Di Kayong Utara, kolaborasi Poltekkes dengan Dinas Kesehatan setempat mengatasi keterbatasan SDM dengan melibatkan 20 mahasiswa per sesi, yang tidak hanya mengimunisasi tapi juga memantau efek samping dan mendata keluarga rawan. Hasilnya, ratusan anak di Kayong Utara berhasil divaksinasi, berkontribusi pada target nasional polio-free Indonesia.
Partisipasi Poltekkes Kayong Utara ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa. Mereka belajar tentang transformasi pelayanan primer Kemenkes, termasuk penggunaan logistik dingin untuk vaksin dan pendekatan komunitas-based. "Semoga kegiatan PIN ini bisa menjadikan generasi muda bebas polio dan sehat selalu," harap Eko Budi Santoso, yang menjadi motivasi bagi tim Poltekkes. Di wilayah perbatasan seperti Kayong Utara, di mana mobilitas tinggi berisiko membawa virus dari luar, imunisasi menjadi benteng utama.
Ke depan, Poltekkes Kayong Utara berencana memperluas program ini ke kampanye bulanan, terintegrasi dengan posyandu dan sekolah. Dengan kolaborasi yang solid, Kayong Utara tidak hanya mencegah polio, tapi juga membangun generasi sehat yang tangguh. Inisiatif ini mengingatkan kita bahwa imunisasi bukan kewajiban, tapi investasi masa depan—setiap tetes vaksin adalah langkah menuju Indonesia bebas kelumpuhan.
