Sosialisasi ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalbar, dengan dukungan penuh dari Poltekkes Bengkayang sebagai tuan rumah lokal. Pemilihan Bengkayang sebagai lokasi bukan kebetulan; kabupaten ini rawan banjir yang sering mengganggu akses kesehatan dan sanitasi, terutama di wilayah pedalaman seperti Kecamatan Sanggau Ledo dan Jangkang. Tujuan utama acara adalah meningkatkan kapasitas respon cepat melalui kesiapan tenaga kesehatan, fasilitas, dan koordinasi antarlembaga. dr. Antonius Decky, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Kalbar, membuka acara dengan menekankan, “Respon yang cepat dan sistematis sangat bergantung pada kesiapan tenaga, fasilitas, dan koordinasi. Oleh karena itu, sinergi pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan mutlak diperlukan.” Pesan ini langsung direspons oleh Poltekkes Bengkayang, yang melalui dosen dan mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan serta Keperawatan, memimpin sesi simulasi dan diskusi interaktif.
Acara berlangsung dinamis, dimulai dengan pemaparan materi dari para pemateri ahli. Rosalina Nungkat, Kadinkes Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang, menyampaikan tiga poin krusial: kesiapsiagaan sebagai kunci keselamatan, pemahaman risiko bencana oleh masyarakat, serta prioritas kesehatan seperti penyediaan air bersih, sanitasi, dan pencegahan wabah pasca-bencana. “Kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan, masyarakat perlu memahami risiko dan cara menyelamatkan diri,” ujarnya, dikutip https://poltekkesbengkayang.org. Noverita Irmayati, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Bengkayang, melanjutkan dengan langkah konkret, seperti pembentukan Posko Satu (PSC) 119 untuk respons darurat, pembangunan Emergency Medical Team (EMT), dan penetapan Penanggung Jawab Krisis Kesehatan di setiap puskesmas. Ini menjadi fondasi bagi Poltekkes Bengkayang untuk mengintegrasikan materi tersebut ke dalam kurikulum Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa.
Puncak acara adalah pemaparan dari Egidius Umbu Ndeta, dosen Poltekkes Kemenkes Pontianak yang bekerja sama erat dengan Poltekkes Bengkayang. Ia memaparkan mitigasi banjir melalui model Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), yang telah disimulasikan di kampus Pontianak. “Penyusunan peta risiko bencana, penetapan jalur evakuasi banjir, dan simulasi rutin adalah saran strategis untuk daerah rawan seperti Bengkayang,” katanya. Demonstrasi praktik evakuasi korban banjir oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) Bengkayang menjadi highlight, di mana mahasiswa Poltekkes Bengkayang turut berpartisipasi sebagai fasilitator, membimbing peserta dalam latihan pertolongan pertama dasar. Sesi diskusi interaktif selanjutnya membahas tantangan lokal, seperti akses terbatas ke fasilitas kesehatan saat banjir, dan solusi seperti posko mobile berbasis drone untuk distribusi obat-obatan.
Poltekkes Bengkayang, yang didirikan untuk mendukung pendidikan kesehatan vokasi di perbatasan Kalbar, melihat sosialisasi ini sebagai kesempatan emas untuk mencetak generasi tenaga kesehatan yang tangguh. Direktur Poltekkes Bengkayang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan, “Kami bangga menjadi bagian dari upaya ini. Melalui PKL, mahasiswa kami belajar bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya teori, tapi aksi nyata untuk lindungi masyarakat. Di Bengkayang, banjir bukan musuh, tapi pelajaran untuk bangun ketangguhan.” Acara ditutup dengan foto bersama, simbol kolaborasi yang diharapkan berlanjut ke simulasi rutin dan pembentukan tim tanggap bencana berbasis komunitas.
Dampak sosialisasi ini langsung terasa: peserta kini lebih paham risiko banjir yang sering merenggut 50-100 jiwa per tahun di Kalbar, menurut data BNPB. Ke depan, Poltekkes Bengkayang berencana mengadakan workshop lanjutan pada akhir 2025, terintegrasi dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk rujukan darurat. Inisiatif ini menjadi inspirasi bagi kabupaten lain di Kalbar, membuktikan bahwa pendidikan kesehatan vokasi seperti Poltekkes Bengkayang adalah garda terdepan dalam membangun masyarakat tangguh. Dengan sinergi ini, Bengkayang siap menghadapi bencana—bukan dengan ketakutan, tapi dengan persiapan matang dan gotong royong.
