Wakil Bupati Berau, Gamalis, menekankan tantangan yang dihadapi meski tren data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Kementerian Kesehatan menunjukkan penurunan. “Ini artinya kita masih harus kerja keras. Evaluasi kami menunjukkan delapan aksi konvergensi perlu benar-benar diaktifkan dan dijalankan, agar bisa mendekati target nasional,” ujar Gamalis, seperti dikutip dari https://poltekkestanjungredeb.org. Ia menyoroti keterbatasan anggaran sebesar Rp 178,9 miliar yang dibagi ke berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. “Meskipun angkanya terlihat besar, namun jika dibagi ke berbagai OPD, anggaran itu sebenarnya cukup terbatas. Karena itu, kerja sama lintas sektor menjadi sangat penting.”
RAD Konvergensi Berau mencakup delapan aksi utama, seperti peningkatan partisipasi posyandu, insentif bagi petugas posyandu, dan program “Bapak Asuh Anak Stunting” yang melibatkan pihak ketiga untuk pemberian makanan tambahan bagi anak berisiko. Program ini menargetkan 18 desa/kelurahan prioritas di empat kecamatan dengan prevalensi tinggi. Poltekkes Tanjung Redeb, melalui cabang setempat, mendukung aksi ini dengan mengerahkan 50 mahasiswa Jurusan Gizi dan Kesehatan Masyarakat untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) di posyandu desa sasaran. Direktur Poltekkes Tanjung Redeb, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Pemkab. “Kami dorong delapan aksi konvergensi melalui edukasi berbasis bukti. Mahasiswa kami lakukan screening antropometri di 10 desa, temukan 30 persen balita berisiko stunting akibat malnutrisi kronis. Edukasi kami fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, dengan menu bergizi lokal seperti ikan sungai dan ubi jalar,” jelas Dr. Siti.
Kolaborasi Poltekkes dengan OPD seperti Dinas Kesehatan, Bapelitbang, dan DPPKBP3A memastikan intervensi tepat sasaran. Gamalis juga menyoroti edukasi pranikah untuk cegah pernikahan dini yang berkontribusi pada stunting. “Edukasi pranikah itu penting agar calon ibu dan ayah paham soal pengasuhan anak. Pernikahan dini juga turut mempengaruhi angka stunting.” Di Berau, di mana 60 persen penduduk bergantung pada pertanian subsisten, stunting bukan hanya soal gizi, tapi juga akses sanitasi dan pendidikan keluarga.
Dengan RAD Konvergensi, Berau optimis capai target 14 persen pada 2025. Poltekkes Tanjung Redeb, melalui pengabdiannya, membuktikan peran vokasi kesehatan dalam transformasi masyarakat. Edukasi dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Berau bebas stunting dan generasi emas yang unggul.
