Poltekkes Sumedang Utara Ingatkan Waspada Penyakit Hirschsprung pada Anak

Poltekkes Sumedang Utara Ingatkan Waspada Penyakit Hirschsprung pada Anak

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, semakin waspada terhadap ancaman penyakit Hirschsprung (HSCR) pada anak, gangguan bawaan yang memengaruhi saluran pencernaan dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dini. Penyakit ini, yang disebabkan oleh ketiadaan sel saraf ganglion di sebagian usus besar, menjadi sorotan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Sumedang Utara. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, Poltekkes mengingatkan orang tua untuk mewaspadai gejala awal seperti sembelit kronis dan muntah hijau pada bayi, menekankan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan medis dapat memberikan prognosis yang baik. Direktur Poltekkes Sumedang Utara, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan keprihatinan atas kurangnya kesadaran masyarakat. “Hirschsprung bukan penyakit langka, tapi sering terlewat diagnosis karena gejalanya mirip sembelit biasa. Kami ingatkan orang tua untuk periksa segera jika bayi tidak BAB dalam 48 jam pertama, karena ini bisa cegah enterokolitis yang mematikan,” ujar Dr. Siti.


Hirschsprung adalah kelainan bawaan yang mengganggu migrasi sel saraf ke dinding usus selama perkembangan janin, menyebabkan obstruksi usus dan kesulitan BAB sejak lahir. Gejala awal pada bayi meliputi perut buncit, muntah hijau (bile), dan sembelit parah, sementara pada anak lebih besar muncul kembung kronis, nyeri perut, dan gagal tumbuh. Penyebab utamanya adalah mutasi genetik, meskipun faktor lingkungan seperti infeksi prenatal juga berperan. Diagnosis dikonfirmasi melalui biopsi rektal untuk deteksi ketiadaan sel ganglion, diikuti pemeriksaan radiologi seperti enema barium. Tanpa pengobatan, risiko infeksi usus (enterokolitis) naik hingga 30 persen, yang bisa fatal pada bayi.

Dokter Dito Anurogo, MSc PhD, spesialis anak dari RSUD Sumedang, menekankan pentingnya deteksi dini. “Deteksi dini dan penanganan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkessumedangutara.org. Pengobatan utama adalah pembedahan pull-through, yang mengangkat segmen usus tanpa sel saraf dan menyambungkan usus sehat ke anus. Operasi ini efektif 90 persen, meskipun pasca-bedah diperlukan pemantauan untuk cegah sembelit berulang. Kemajuan terapi regeneratif, seperti stem cell, terapi gen, organoid, dan CRISPR, menawarkan harapan baru. “Terapi-terapi ini menargetkan penggantian sel saraf usus yang hilang, serta koreksi mutasi genetik penyebab penyakit Hirschsprung,” tambah Dokter Dito.

Poltekkes Kemenkes Sumedang Utara merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Lonjakan kasus Hirschsprung ini alarm bagi kami. Di Sumedang, dengan 1,2 juta penduduk dan akses kesehatan terbatas di pedalaman, kami soroti melalui sosialisasi di 15 puskesmas prioritas, ajak orang tua periksa bayi baru lahir untuk deteksi dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kebidanan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi tanda bahaya seperti perut buncit dan muntah hijau,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining gratis di kampus, mendeteksi 50 kasus risiko Hirschsprung sejak Juli 2025 untuk rujukan ke RSUD.

Upaya pencegahan meliputi edukasi orang tua tentang nutrisi prenatal dan skrining genetik pra-kehamilan. Dokter Dito menambahkan, “Sebagai orang tua, penting untuk mewaspadai tanda-tanda sembelit parah pada anak dan segera memeriksakan ke dokter.” Dampak awal: kesadaran orang tua naik 35 persen di kecamatan sasaran sejak November 2025, dengan penurunan kasus enterokolitis 20 persen.

Dengan sorotan Poltekkes Sumedang Utara, Hirschsprung bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, skrining, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Sumedang sehat dan generasi anak bebas risiko.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita