Direktur Poltekkes Kemenkes Pontianak (yang mencakup cabang Sintang), dr. Hj. Yuliana, M.Kes, membuka acara dengan himbauan tegas. “Stunting bukan takdir, tapi bisa dicegah dengan kesadaran kolektif. Kami ajak masyarakat Sintang untuk terapkan pola makan bergizi sejak dini, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Ibu hamil dan menyusui adalah kunci utama; konsumsi protein dari ikan sungai dan sayur lokal bisa tekan risiko stunting hingga 40 persen,” ujar dr. Yuliana, seperti dikutip dari https://poltekkeskotasintang.org. Ia menekankan bahwa stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tapi juga kognitif, dengan dampak ekonomi hingga Rp 300 triliun per tahun secara nasional jika tidak ditangani.
Sosialisasi ini melibatkan 150 mahasiswa Poltekkes Sintang dari Program Studi Gizi, Kebidanan, dan Kesehatan Masyarakat, yang turun langsung mendampingi peserta melalui demo memasak makanan bergizi murah seperti pepes ikan patin dengan daun singkong. Kegiatan juga mencakup pemeriksaan antropometri gratis untuk 200 balita dan ibu hamil, serta pembagian 500 paket suplemen zat besi dan vitamin A. “Kami tidak hanya beri ilmu, tapi juga aksi nyata. Mahasiswa ini bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) mereka, sehingga pengetahuan langsung diterapkan di lapangan,” tambah Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator acara.
Poltekkes Sintang berkolaborasi erat dengan Dinas Kesehatan Sintang dan Ikatan Wanita Indonesia (IWI) setempat untuk menjangkau desa-desa terpencil seperti Tempah dan Semangit. Kepala Dinkes Sintang, dr. Edi Harmaeni, menyambut baik inisiatif ini. “Sintang punya tantangan akses pangan di pedalaman, tapi dengan edukasi Poltekkes, kami optimis turunkan stunting di bawah 14 persen nasional pada 2027. Fokus pada 1.000 hari pertama: gizi ibu hamil, ASI eksklusif, dan MP-ASI yang tepat,” katanya. Acara juga menampilkan testimoni ibu-ibu posyandu yang berhasil kurangi berat badan balita mereka melalui intervensi gizi sederhana.
Dampak sosialisasi ini langsung terasa: 80 persen peserta berkomitmen terapkan menu bergizi harian, dan 50 ibu hamil terdaftar untuk monitoring bulanan di posyandu. Poltekkes Sintang berencana lanjutkan program ini dengan KKN tematik di 20 desa pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). “Masyarakat Sintang adalah mitra kami. Cegah stunting dimulai dari dapur rumah—makan ikan, sayur, dan susu murah lokal,” pungkas dr. Yuliana.
Dengan ajakan Poltekkes Sintang, warga kini lebih sadar: stunting bukan musuh tak terlihat, tapi bisa dikalahkan dengan gizi dan kesadaran. Sintang sehat, generasi emas cerah—itu visi yang kini bergaung di pedalaman Kalbar.
