Poltekkes Kota Penajam Tekan Kasus Penularan Penyakit Malaria: Strategi Deteksi Dini dan Pencegahan

Poltekkes Kota Penajam Tekan Kasus Penularan Penyakit Malaria: Strategi Deteksi Dini dan Pencegahan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur, berhasil mencatat penurunan signifikan kasus penularan penyakit malaria dalam dua tahun terakhir, menjadikannya zona hijau penularan menurut klasifikasi Kementerian Kesehatan. Prestasi ini menjadi bukti keberhasilan strategi terintegrasi Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, yang menargetkan eliminasi malaria sebagai penyakit endemik di wilayah perbatasan dan penyangga Ibu Kota Nusantara. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Penajam, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di daerah ini, turut berkontribusi melalui pelatihan kader dan mahasiswa untuk deteksi dini, memastikan penurunan kasus dari 1.315 pada 2023 menjadi 558 pada 2024, dan hanya 98 kasus pada Januari hingga awal Juni 2025.


dr. Jansje Grace Makisurat, Kepala Dinkes PPU, menyatakan bahwa perubahan status dari zona kuning ke hijau ini hasil dari upaya kolektif. “Kasus penularan penyakit malaria mengalami penurunan sehingga saat ini PPU sudah turun ke zona hijau. Kalau tahun lalu, PPU masih masuk dalam zona kuning penularan malaria,” ujar dr. Jansje, seperti dikutip dari https://poltekkeskotapenajam.org. Ia menekankan strategi utama: pembagian kelambu berinsektisida kepada masyarakat di wilayah endemis, pemeriksaan kesehatan rumah ke rumah oleh kader penanggulangan malaria hingga radius 100 meter jika ada kasus terjangkit, serta imbauan menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. “Kalau di lingkungannya ada yang tertular malaria, maka kami akan lakukan pemeriksaan kesehatan warga sekitar sampai radius 100 meter. Itu dilakukan untuk mencegah perluasan penularan malaria,” tambahnya.

Poltekkes Kemenkes Penajam memainkan peran krusial dalam mendukung strategi ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya menyediakan tenaga ahli, tapi juga melibatkan 100 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk pelatihan kader desa. Direktur Poltekkes Penajam, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti kontribusi lembaga ini. “Kami tekan kasus malaria dengan edukasi deteksi dini gejala seperti demam, mual, sakit kepala, menggigil, dan lainnya. Mahasiswa kami dampingi kader lakukan skrining rumah ke rumah, sekaligus edukasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida) untuk basmi sarang nyamuk Anopheles,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan laboratorium portabel untuk uji darah malaria cepat, memastikan diagnosis akurat di tingkat desa.

Penurunan kasus malaria di PPU ini selaras dengan target nasional eliminasi malaria pada 2030, di mana Kalimantan Timur masih endemis dengan 5.000 kasus tahunan. Strategi Dinkes PPU, didukung Poltekkes, fokus pada pencegahan vertikal: vaksinasi anak dan suplementasi vitamin untuk tingkatkan imunitas. “Masyarakat yang mengalami gejala malaria seperti demam, mual, sakit kepala, menggigil dan lainnya segera melakukan pemeriksaan di Puskesmas terdekat,” himbau dr. Jansje, menekankan pentingnya respons cepat untuk cegah komplikasi seperti malaria serebral yang mematikan.

Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi kabupaten tetangga. Poltekkes Penajam berencana perluas program ke 20 desa prioritas pada 2026, dengan integrasi aplikasi mobile untuk laporan kasus malaria real-time. Dengan deteksi dini dan pencegahan berbasis komunitas, PPU bukan lagi zona merah malaria, tapi model nasional—untuk generasi sehat dan bebas penyakit tropis.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita