Kegiatan ini diselenggarakan oleh Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Pontianak bekerja sama dengan Medical Service & Training (MST) 119, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, Polisi Lalu Lintas, Pusat Pelayanan Sarana (PSC) 119, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Singkawang. Tujuannya jelas: memperkuat koordinasi respons darurat dan meningkatkan kesiapan komunitas dalam menghadapi bencana alam atau non-alam yang sering mengancam wilayah perbatasan seperti Singkawang. Ns. Raju Kapadia, S.Kep., M.Med. Ed., Kepala Jurusan Keperawatan, membuka acara dengan seruan kesiapsiagaan. “Kebencanaan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Maka dari itu, kegiatan simulasi seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kesiapan tenaga tanggap darurat serta kemampuan dalam upaya penanggulangan bencana,” ujarnya, seperti dikutip https://poltekkeskotasingkawang.org.
Simulasi berlangsung secara terstruktur di empat lokasi utama: situs bencana, area evakuasi awal, rumah sakit lapangan, dan rumah sakit rujukan. Peserta memerankan skenario darurat komprehensif, mulai dari evakuasi korban, penanganan medis darurat, hingga koordinasi logistik. Tim medis Poltekkes Singkawang, dibantu mahasiswa Jurusan Keperawatan, mendemonstrasikan teknik pertolongan pertama seperti CPR, penanganan luka bakar, dan triase korban massal. Sementara itu, BPBD Singkawang memimpin simulasi evakuasi, dan Polisi Lalu Lintas mengatur arus lalu lintas darurat. Kegiatan ini tidak hanya menguji kemampuan teknis, tapi juga koordinasi antarlembaga, yang krusial di Singkawang yang rawan gempa dan banjir akibat letak geologisnya.
Direktur Poltekkes Kemenkes Pontianak, dr. Hj. Yuliana, M.Kes, yang turut hadir, menyatakan bahwa simulasi ini selaras dengan visi Kementerian Kesehatan untuk membangun sistem kesehatan tangguh. “Di wilayah perbatasan seperti Singkawang, bencana bisa datang tiba-tiba. Simulasi ini melatih mahasiswa kami menjadi tenaga kesehatan yang siap action, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat. Hasilnya, kami harap respons darurat bisa lebih cepat dan efektif,” katanya. Acara juga diikuti edukasi masyarakat tentang persiapan bencana rumah tangga, seperti penyediaan kit P3K dan rencana evakuasi keluarga.
Peserta mengapresiasi keterlibatan Poltekkes Singkawang. Seorang mahasiswa, Rizky, berbagi pengalaman: “Saya belajar bagaimana koordinasi tim medis di situasi chaos. Ini PKL terbaik untuk kami.” Sementara warga lokal, Ibu Siti, menambahkan, “Kami jarang latihan seperti ini. Sekarang tahu harus apa kalau banjir datang.”
Ke depan, Poltekkes Singkawang berencana gelar simulasi rutin setiap semester, terintegrasi dengan kurikulum Jurusan Keperawatan. Kolaborasi dengan BPBD dan Dinkes Singkawang juga akan diperluas untuk workshop tahunan. Di Singkawang, yang sering dilanda cuaca ekstrem, inisiatif ini bukan hanya latihan, tapi investasi nyawa. Poltekkes Singkawang membuktikan: kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab bersama—untuk wilayah perbatasan yang tangguh dan aman.
