Merinding! Kisah Nyata Konser Ghaib di Kaki Gunung Merapi, Penonton Hening Tanpa Ekspresi

Merinding! Kisah Nyata Konser Ghaib di Kaki Gunung Merapi, Penonton Hening Tanpa Ekspresi

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Merinding! Kisah Nyata Konser Ghaib di Kaki Gunung Merapi, Penonton Hening Tanpa Ekspresi


GELORA.CO - Sekelompok pemuda yang tergabung dalam grup band musik religi asal Yogyakarta mengalami kejadian di luar nalar setelah diundang mengisi acara di salah satu desa di kaki Gunung Merapi pada November 2011 silam.

Kisah mengerikan ini dibagikan oleh Resti Sofiani atau yang akrab disapa Sofi, selaku vokalis grup band religi tersebut di YouTube RJL 5 yang diunggah dengan judul ‘Kisah Konser Ghaib Musik Religi di Kaki Gunung Merapi 2011’.

Sofi bercerita saat itu ia dan 7 orang temannya diundang oleh orang misterius bernama Pak Tugiono untuk mengisi acara pernikahan di rumahnnya. Tak ada kejanggalan yang dirasa saat menerima job manggung tersebut.

Tepat di hari H, Sofi dan teman-temannya pun langsung bergegas menuju lokasi yang diberikan Pak Tugiono. Mereka total 8 orang, menggunakan 4 sepeda motor. Perjalanan dimulai pukul 4 sore melewati jalur Maguwo.

Sofi yang saat itu hanya ikut tanpa tau siapa yang mengundang dan dimana lokasi acara, bertanya kepada rekannya. “Ini kita acaranya nanti daerah mana mas?” – “Daerah , patokannya ada lapangan nanti dekat dekat sana,” jawab rekannya.

“Acara apa ya? Hajatan pernikahan, syukuran rumah, acara desa?” tanya Sofi untuk mengetahui lagu dan pembawaan apa yang cocok ia tampilkan diatas panggung nanti.

“Lah saya juga gatau. Itu yang nerima job si Mas Samsul,” balas rekan Sofi

Setelah diketahui, desa misterius tersebut ternyata berada di arah kaki Gunung Merapi. Sofi mengungkap, dari Maguwo mereka terus melaju dan meninggalkan hiruk pikuk jalan besar` hingga memasuki jalan perkampungan yang sepi.

Sofi dan teman-temannya tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan kondisi mulai gelap. Namun, lokasi acara belum juga mereka temui.

Di kondisi ini lah mereka mulai merasakan keanehan. Sofi mengatakan, ia melihat bangunan besar menyerupai mall yang belum pernah ia lihat sebelumnya, padahal saat itu mereka berada di kaki gunung.

Sofi mengatakan, pukul 7 malam, rombongan akhirnya menemukan patokan yang diberikan Pak Tugiono. “Nah dari sini harusnya udah deket nih. Katanya kalo ketemu lapangan golf lurus lagi nanti acaranya deket deket jalan ini” ujar Sofi bercerita

Menemukan lokasi misterius


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 9 malam, Sofi dan rombongan bertemu dengan sekumpulan pria. Mereka pun segera bertanya lokasi kediaman Pak Tugiono. “Pak, rumahnya Pak Tugio di mana ya?,” – “Pak Tugio? Loh ya iki (ini) rumahnya,” jawab sekumpulan pria itu

Sofi mengaku, sebelum mereka bertanya, ia tidak melihat satu banguan pun di sana. Namun, setelah sekumpulan pria menjawab ‘loh iki’ Sofi melihat ada dua rumah yang saling berhadapan.

Ia mengaku merasa aneh dengan tempat tersebut, lantaran kondisinya yang sudah tidak terurus dipenuhi sarang laba laba dan debu. Ditambah lagi, lokasi saat itu masih sepi, tidak ada tanda-tanda pesta pernikahan.

Mereka disambut oleh seorang ibu yang menawarkan teh hangat dan air mineral dengan kemasan yang beredar tahun 90-an. Ketika mencicipi teh, Sofi mengaku teh tersebut memiliki rasa yang sangat aneh.

Setelah membasahi kerongkongan dengan air, Sofi izin untuk merapikan pakaian. “Kondisi di dalam rumah, ada dua kamar saling berhadapan,” jelasya

Saat itu Pak Tugiono sempat berpesan agar Sofi tidak membuka kamar sisi kanan. Namun, ia mengaku sempat membuka pintu sisi kanan. Dalam ruangan ia melihat seorang wanita berambut panjang yang menyeramkan.

“Aku langsung tutup, langsung ke kamar sebelah kiri. Di dalam kamar kiri ada Kasur kapuk warnanya udah cokelat, kotor dan berdebu” tambahnya

Anehnya, lanjut dia, baru beberapa menit ia masuk, pintu kamar diketuk oleh seseorang yang memintanya bergegas. “Ayuk cepet cepet, acara udah dimulai,” kata seseorang di luar kamar.

Sofi menerangkan bahwa saat mereka sampai disana penerangan sangat minim, namun setelah ia keluar dari kamar, diluar sudah ada panggung, tata lampu, rombongan para tamu dan sound system yang telah terpasang.

“Tiba-tiba udah ada panggung, lampu, orang duduk, kapan mereka cek soun systemnya” ungkapnya heran

Penontonnya juga sangat banyak terdiri dari bapak bapak di bagian depan panggung dan ibu ibu di sisi samping dan belakang panggung. “Mereka tatapannya kosong semua,” kata Sofi.

Mulai rangkaian acara


Sofi tetap profesional dan tampil membawakan lagu demi lagu. Ia sempat mencoba mencairkan suasana dengan melemparkan pertanyaan dan candaan kepada para penontonnya, namun tidak ada yang merespons.

Sofi mengaku, mereka tak diberi izin turun panggung untuk beristirahat. Sampai ada seorang ustad menaiki panggung dan mengisi ceramah. Lagi lagi hal cukup aneh Sofi rasakan saat itu. Ustaz tersebut bercermah soal kematian dan ajal, jauh dari yang biasa dibawa seorang penceramah di acara tasyakuran.

Singkat cerita, selesai mengisi acara, Sofi yang sudah ketakutan meminta untuk segera pulang. Ia dengan panik meminta teman-temannya segera berkemas dan segera pergi dari lokasi tersebut.

Namun, lanjut dia, teman-temannya masih belum mau pulang karena disuguhkan makanan oleh pemilik rumah. Sofi melihat makanan yang dihidangkan bukan makanan atau lauk pada umumnya, namun entah kenapa rekan rekannya makan dengan lahap.

“Teman-teman ku di situ pada makan, pas aku lihat makanannya, yang aku lihat itu bunga sajen, oseng-oseng bunga,” ungkap Sofi.

Sambil menunggu rekannya makan, Sofi mengajak ibu yang menghidangkan makanannya untuk mengobrol.

“Bu, ngapunten nggih, ini acara apa ya? pengantinnya mana ya?” tanya Sofi berusaha untuk ramah.

“Pengantinnya wes (sudah) mati nduk,” jawab sang ibu dengan ekspresi datar.

Mendapat jawaban itu, Sofi dan teman-temannya pun terkejut, mereka kemudian meminta izin untuk meninggalkan tempat tersebut. Tak terasa saat itu waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Rombongan melaju dengan kecepatan tinggi dan terus membunyikan klakson secara bersahut-sahutan di jalan yang gelap dan sepi.

Pada akhirnya Sofi dan rombongan berhasil menemukan jalan yang diterangi lampu. Ia pun mengaku senang saat melewati jalan tersebut.

Pada akhirnya mereka berhasil menemukan jalan raya yang dilalui banyak kendaraan hingga berhasil kembali ke Yogyakarta.

Sumber: viva
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita