Dilarang, Nobar Film Dirty Vote di Gresik Dibubarkan Polisi

Dilarang, Nobar Film Dirty Vote di Gresik Dibubarkan Polisi

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -  Pelarangan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Dirty Vote kembali terjadi. Kini, pelarangan itu terjadi di Wringianom, Gresik, Jawa Timur. Pelarangan ini bahkan diduga langsung dilakukan oleh seorang polisi dari Polsek Wringianom.

Diketahui bahwa acara nobar dan diskusi film dokumenter Dirty Vote itu diselenggarakan komunitas River Warrior Indonesia. Rencananya, acara itu digelar Senin (12/9) pukul 19.00 WIB di Gedung Inspirasi Ecoton, Gresik, Jawa Timur. 
 
Koordinator River Warrior Thara mengatakan, pelarangan nobar film Dirty Vote itu terjadi pada sekitar pukul 14.11 WIB. Seorang polisi yang mengaku sebagai Kanitnñ Intel Polsek Wringinanom mendatangi Gedung Inspirasi Ecoton, lokasi rencananya nobar itu berlangsung. 
 
"Iya, betul. Siang tadi didatangi Kasat Intel Polsek Wringinanom," ujar Thara saat dihubungi JawaPos.com, Senin (12/2).
 
Dalam kunjungannya itu, ia menyebut bahwa polisi tersebut datang sendiri dan menyampaikan untuk membantu menciptakan kondisi yang kondusif dengan tidak melakukan nobar film Dirty Vote. Selain itu, polisi tersebut juga mengungkit masa tenang Pemilu.
 
"Melarang pemutaran film karena di masa tenang dan kegiatannya mengundang komunitas lebih dari 2 orang," jelas Thara.
 
Polisi itu juga meminta untuk komunitas River Warrior tak mengundang komunitas dan peserta dari luar.
 
"Acara nobar harus dibatalkan," ungkap Thara.
 
Sebelumnya, film Dokumenter Dirty Vote yang memuat dugaan kecurangan yang dilakukan dalam Pemilu 2024 menjadi sorotan seusai di rilis hari ini, Minggu (11/2). Film yang dikupas tiga akademisi Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar itu ternyata diproduksi dengan dana patungan.
 
Produser Dirty Vote Joni Aswira mengatakan, film ini lahir dari kolaborasi lintas CSO. Ia mengatakan, dokumenter ini sesungguhnya juga memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil. Biaya produksinya dihimpun melalui crowd funding, sumbangan individu dan lembaga.
 
“Biayanya patungan," ujarnya kepada wartawan, Minggu (11/2).
 
Selain itu, ia mengungkap bahwa film dokumenter ini digarap dengan waktu yang cenderung pendek dibanding film dokumenter lainnya. 

"Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis," ungkap Joni. (*)

Sumber: jawapos
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita