Tak Terima Pentolan Hamas Dibunuh, Hizbullah Hujani Israel dengan Roket

Tak Terima Pentolan Hamas Dibunuh, Hizbullah Hujani Israel dengan Roket

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Merespon kematian pentolan Hamas yang terbunuh, Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah menghujani Israel dengan roket.

Hizbullah tidak terima dengan pembunuhan terhadap Pemimpin Besar Sheikh Saleh al-Arouri.

Militan Lebanon itu lantas menargetkan pos militer penting Israel dengan rentetan 62 roket.

Peluncuran itu pun diklaim sebagai "tanggapan awal" terhadap respon pembunuhan bos Hamas, yang tewas di Beirut minggu ini.


"Sebagai bagian dari respon awal terhadap kejahatan pembunuhan pemimpin besar Sheikh Saleh al-Arouri, perlawanan Islam (Hizbullah) menargetkan pangkalan kendali udara Meron dengan 62 jenis rudal," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan, Sabtu (6/1/2024), dikutip dari Al Jazeera.


Sebelumnya, Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah pada hari Jumat (5/1/2024) berkelakar bahwa seluruh Lebanon akan terekspos, jika mereka tidak bereaksi terhadap pembunuhan Wakil Ketua Hamas al-Arouri.

Sebagaimana diketahui, Al-Arouri diduga terbunuh dalam serangan Israel pada hari Selasa (2/1/2024) di kubu Hizbullah.

Nasrallah telah memperingatkan Israel agar tidak memperluas konflik.

"Tidak ada batasan dan tidak ada aturan bagi perjuangan kelompok Hizbullah, jika Israel memilih untuk melancarkan perang terhadap Lebanon," Nasrallah memperingatkan.


Israel klaim balas serangan kelompok militan

Lebih jauh, militer Israel sebelumnya mengatakan bahwa ada sekitar 40 roket ditembakkan ke Pangkalan Pengawasan Udara Meron.

Mereka membalasnya dengan menyerang "sel teroris" yang ikut serta dalam peluncuran tersebut.

Tapi, hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan.

Kelompok Jama'a Islamiya Lebanon juga luncurkan roket

Lalu, pada Sabtu (6/1/2024) malam pula, kelompok Jama'a Islamiya Lebanon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menembakkan dua tembakan roket ke Kiryat Shmona di Israel utara.

Hizbullah dan tentara Israel terus saling baku tembak di sepanjang wilayah perbatasan.

"(Ada) satu serangan Israel masuk jauh ke dalam wilayah Lebanon dan menghantam sebuah rumah hampir 40 kilometer dari perbatasan," kata koresponden Al Jazeera di Lebanon .

 
Josep Borrell bertemu Perdana Menteri Lebanon

Serangan Hizbullah terjadi di saat bersamaan kala Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell , bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati di Beirut pada Sabtu (6/1/2024).

Dari pertemuan itu, keluar peringatan yang menyatakan agar Lebanon tidak terseret dalam konfril regional terkait perang Israel-Hamas di Gaza.

Josep Borrell mengatakan pada hari Sabtu bahwa penting untuk menghindari eskalasi regional di Timur Tengah.

"Hal ini mutlak diperlukan untuk menghindari Lebanon terseret ke dalam konflik regional," katanya.


Juga memperingatkan Israel bahwa "tidak ada yang akan menang dalam konflik regional".

"Kami melihat intensifikasi baku tembak yang mengkhawatirkan di Jalur Biru," tambahnya.

Jalan Biru mengacu pada garis demarkasi saat ini antara kedua negara, sebuah perbatasan yang dipetakan oleh PBB yang menandai garis penarikan pasukan Israel ketika mereka meninggalkan Lebanon selatan pada tahun 2000.

Najib Mikati mengatakan bahwa setiap pemboman skala besar di Lebanon selatan akan menyebabkan "ledakan komprehensif" di wilayah tersebut.

Sosok Saleh Al-Arouri
Siapakah sosok Saleh Al-Arouri?

Dikutip dari berbagai sumber, Saleh Al-Arouri merupakan Wakil Kepala Biro Politik Hamas.

Dilansir Al Arabiya, Saleh Al-Arouri tewas dalam serangan drone Israel yang menyasar Beirut, Ibu Kota Lebanon pada Selasa (2/1/2024).

Al-Arouri adalah salah satu perunding Hamas terlibat dalam pertukaran sejumlah besar tahanan Palestina dengan tawanan Israel yang diambil pada 7 Oktober.

Al-Arouri lahir di dekat Ramallah di Tepi Barat pada tahun 1966.

Ia merupakan salah satu orang pertama yang bergabung dengan Hamas ketika dibentuk pada tahun 1987.


Al-Arouri menghabiskan tiga tahun di Suriah sebelum pindah ke Turki dan tinggal di sana hingga tahun 2015.

Sejak itu, Al-Arouri tinggal di Qatar dan Lebanon.

Kemudian dirinya bekerja di kantor Hamas di pinggiran selatan Beirut hingga serangan mendadak pada hari Selasa (2/1/2024) kemarin.

Israel telah lama menuduh Al-Arouri melancarkan serangan berdarah terhadap warganya. diwartakan oleh Sky News.

Pria itu membantu mendirikan sayap militer Hamas, Brigade Izz al-Din al-Qassam, dan dituduh oleh Israel mendalangi serangan fatal selama bertahun-tahun.

Tel Aviv juga mengatakan Al-Arouri berada di balik penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Israel di Tepi Barat pada tahun 2014,

Pembunuhan Al-Arouri terjadi sekitar tiga bulan setelah serangan mendadak yang dilancarkan Hamas melintasi perbatasan ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023.

Eskalasi tersebut telah memicu perang yang saat ini masih berlangsung di Jalur Gaza antara Israel dan militan Hamas.

Sumber: Tribunnews
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita