Khawatir jadi Pemimpin Kekanak-kanakan, Prabowo Ditinggalkan Pendukung di Purwokerto

Khawatir jadi Pemimpin Kekanak-kanakan, Prabowo Ditinggalkan Pendukung di Purwokerto

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Kekhawatiran masyarakat akan adanya pemimpin kekanak-kanakan makin meluas, seiring dengan makin massifnya penolakan terhadap capres Prabowo - Gibran. Jika sebelumnya kekhawatiran itu terjadi pada masyarakat perkotaan, kini masyarakat di daerah pun mulai sadar, bahwa kelak akan ada capres yang berkarakter anak-anak. Ramai-ramai masyarakat luas mulai meninggalkannya, termasuk di Kota Satria, Purwokerto.

Hal ini disampaikan oleh Shinta dan Ella warga Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah saat berbincang dengan wartawan FNN, Jumat (04/01/2024).

Dua anak milenial itu menilai Prabowo terlalu tua untuk menjadi presiden Republik Indonesia. "Orang yang sudah tua, pikirannya akan kembali ke anak kecil," katanya.

Sedangkan Gibran terlalu muda untuk menjadi presiden, apalagi dengan proses yang dipaksakan. "Kematangan seorang pemimpin mutlak diperlukan. Dari beberapa kali debat capres dan cawapres, publik tahu siapa yang tidak dewasa," terangnya.

Jadi, kata Shinta mereka akan menjadi pasangan anak-anak memimpin bangsa ini,  hal mana akan membahayakan bangsa Indonesia sendiri. 

Shinta dan Ella menyarankan Prabowo maupun Gibran bisa menahan diri nafsu berkuasa, sebab masih banyak putra bangsa yang lebih mumpuni dan diterima masyarakat. "Seharusnya kesadaran atau tahu diri, muncul dari mereka," kata lulusan perguruan tinggi di Purwokerto tersebut.

Senada dengan Shinta dan Ella, Slamet Riyadi pemuda Purwokerto yang sering nongkrong di depan Masjid Raya menyayangkan Prabowo mengambil cawapres Gibran. "Saya heran, kenapa Pak Prabowo memilih Gibran," kata Slamet yang sejak awal mendukung Prabowo namun tahun ini memilih Anies Baswedan.

"Saya dulu jagoin Prabowo, tetapi tahun ini pilih Anies. Saya kecewa dulu dia merapat ke Jokowi,"  paparnya dengan bahasa ngapak yang khas.

Oleh karena itu, kini Slamet memutuskan untuk mendukung pasangan Anies - Cak Imin. Di samping kecewa pada Prabowo, dukungan ke Anies disebabkan oleh banyaknya warga Purwokerto yang mendukung pasangan ini. 

Slamet menyebut beberapa tokoh Purwokerto mendukung AMIN, seperti Haji Tohirin Sokaraja (pengusaha getuk goreng), Pak Turyo Kasepuhan Alun alun dan Banser PKB di wilayah Purwokerto. 

Perihal mengapa rakyat harus menolak Prabowo, Koordinator Kajian Merah Putih Sutoyo Abadi menyebut bahwa Prabowo telah terperangkap kekuasaan oligarki yang membahayakan negara. Ia tidak kokoh pada pendiriannya untuk menyelamatkan negara, dan terkesan hanya mencari aman bersekutu dengan penguasa untuk meraih kekuasaan.

Sikap oportunis Prabowo, kata Sutoyo terbaca dari sikap politiknya dengan pengorbanan umat Islam (khususnya para pendukungnya pada pemilihan presiden 2019).

"Umat penyumbang suara terbanyak ini ditinggalkan begitu saja. Sungguh menyakitkan. Aneh sekarang mereka kembali mengais -ngais suara umat Islam," paparnya.

Kengerian sudah terbaca di depan mata, bahwa jika Prabowo berkuasa kata Sutoyo,  perlawanan rakyat akan membesar. Apalagi jika akan meneruskan pola kepemimpinan Jokowi.

"Sangat mungkin berpotensi lahirnya people power atau revolusi," pungkasnya. (abd).

Sumber: fnn
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita